"Ada 1.500 tentara yang meninggal dalam pertempuran masif saat perebutan Pacet. Belum lagi masyarakat sipil. Warga Sendi memang terkenal sebagai penyuplai makanan bagi para pejuang yang melintas dan singgah di sana. Itulah kenapa 1948 Warga Sendi diusir dari desa oleh Belanda," terang mantan aktivis PMII ini.
Sementara itu, ditemui secara terpisah, keturuan Bupati Ketiga Mojokerto di era Pemerintahan Kolonial Belanda, regent Raden Abdoel Madjid yang memiliki gelar Raden Adipati Arya Kromo Adinegoro, membenarkan jika kawasan Sendi merupakan wilayah basis perjuangan tentara republik Indonesia. Terlebih saat Agresi Militer Belanda ke II tahun 1945 hingga 1948.
"Memang benar, di situ menjadi lokasi para pejuang. Karena, keturunan Abdoel Madjid ini memang banyak yang membelot dan memilih bergabung dengan tentara pejuang," uangkap Raden Heri Apriyanto kepada Okezone.
Regent III Mojokerto Raden Arya Adipati Abdoel Madjid, Ketiga dari kanan berkacamata (istimewa)
Raden Heri yang notabene cucu regent ke-III Mojokerto Raden Abdoel Madjid ini menuturkan, Abdoel Madjid merupakan anak dari regent ke-II Mojokerto, yakni Raden Mashoedan yang bergelar Raden Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro IV. Abdoel Madjid menjabat sebagai bupati Mojokerto sejak tahun 1916-1932.