Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sepenggal Sejarah Sendi, Jalur dan Persinggahan Gerilyawan Batalyon Hayam Wuruk

Zen Arivin , Jurnalis-Rabu, 10 Mei 2017 |16:14 WIB
Sepenggal Sejarah Sendi, Jalur dan Persinggahan Gerilyawan Batalyon Hayam Wuruk
Kehidupan di Desa Sendi, Desa yang "Hilang" di Mojokerto (foto: Zen Arivin/Okezone)
A
A
A

Yuhan menuturkan, pada tahun 1948, untuk mengimbangi kekuatan tentara Belandan pada Agresi Militer Ke II, Tentara Nasional Indonesia (TNI) membentuk dua batalyon tempur. Dimana dua batalyon itu hanya diperbolehkan menerapkan perang dengan sistem gerilya, bukan pertempuran terbuka.

Yakni Batalyon Brawijaya dan Hayam Wuruk. Batalyon Brawijaya yang dipimpin Letkol Kretarto bertugas menguasai Surabaya melalui sisi utara sungai Brantas. Sementara, Batalyon Hayam Wuruk yang terdiri dari empat pasukan, Bambang Yuwono, Isa Idris, Manshur Solihin, dan Cipto, masuk ke Sidoarjo melalui Mojosari atau Tanjangrono, serta Jembatan Porong.

Pasukan Manshur Solihin saat itu ditugaskan menggempur Pacet yang dikuasai Belanda. Sedangkan pasukan Cipto menghadang bala bantuan Belanda dari Brangkal. Untuk Isa Idris bertugas menutup jalur bantuan di wilayah Pugeran, sedangkan pasukan Bambang Yuwono menutup suplai logistik Belanda dari arah Mojosari dan Trawas.

"Serangan itu terjadi pada 1 Januari 1949. Butuh waktu seharian penuh untuk bisa merebut Pacet. Karena, pasukan Bambang Yuwono tidak bisa menghentikan suplai bala bantuan yang dari Mojosari. Untungnya, ada pasukan Laskar Hisbullah pimpinan Munasir yang juga membantu hingga akhirnya Pacet dikuasai," ungkap Yuhan yang juga Ketua Komisioner KPU Mojokerto ini.

Keberhasilan pasukan pejuang ini tak lepas dari bantuan dan suplai logistik warga Desa Sendi yang kalau diusir dari desa. Banyak diantara mereka yang membantu pejuang untuk menyuplai makanan hingga bertarung dengan gagah berani tanpa rasa takut.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement