Ia menjelaskan, dalam situasi ketika anak merasa terancam, respons yang muncul bisa berkaitan dengan upaya melindungi diri. Anak dapat berada dalam kondisi bertahan menghadapi ancaman, bukan sedang belajar memahami aturan atau mengembangkan pengendalian diri.
Orang tua perlu memahami pentingnya pola pengasuhan yang tidak mengandalkan kekerasan. Orang tua tetap dapat menetapkan batasan dan aturan bagi anak, tetapi perlu menyampaikannya dengan cara yang membantu anak memahami konsekuensi perilakunya.
Ketika terjadi perselisihan di rumah, orang tua juga perlu berupaya menyelesaikannya tanpa ancaman maupun kekerasan fisik. Dengan begitu, anak dapat melihat contoh langsung tentang cara mengelola emosi, menyampaikan pendapat, dan mencari jalan keluar dari sebuah masalah.
Anak memang tidak selalu meniru perilaku yang mereka saksikan. Namun, pengalaman sosial di rumah merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi cara mereka merespons situasi di kemudian hari.
Karena itu, membangun lingkungan keluarga yang aman dan memberikan teladan dalam menyelesaikan konflik menjadi bagian penting untuk mendukung perkembangan emosional dan sosial anak.
(Agustina Wulandari )