JAKARTA — Kekerasan yang disaksikan anak di lingkungan keluarga bisa memengaruhi cara mereka memahami konflik dan berperilaku di kemudian hari. Meski tidak menjadi korban kekerasan secara langsung, anak yang melihat orang dewasa bertengkar hingga melakukan kekerasan fisik berisiko meniru perilaku tersebut ketika menghadapi situasi serupa.
Psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga Roslina Verauli, M. Psi, menjelaskan bahwa anak banyak belajar melalui pengamatan terhadap orang-orang di sekitarnya, terutama orang tua dan orang dewasa yang menjadi panutan mereka.
Karena itu, orang tua perlu menyadari bahwa perilaku yang ditunjukkan di rumah dapat menjadi contoh bagi anak dalam memahami cara berinteraksi dan menyelesaikan masalah.
“Anak itu paling banyak belajar dari model sosial yang dia lihat. Siapa model sosialnya anak? Kita, orang tua, orang dewasa di sekitar anak,” ujar Roslina dalam Podcast Herspective, dikutip Senin (26/10/2026).
Ia menjelaskan, orang tua mungkin merasa tidak pernah melakukan kekerasan fisik terhadap anak. Namun, ketika anak menyaksikan ayah dan ibunya saling memukul atau melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pengalaman tersebut tetap dapat memengaruhi proses belajar anak.