Anak bisa menangkap perilaku itu sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan konflik. Pemahaman tersebut kemudian dapat terbawa ke lingkungan lain, termasuk sekolah.
“Jadi anak belajar, oh itu cara menyelesaikan konflik ya. Jadi kalau menyelesaikan masalah, pakai kayak gitu,” jelasnya.
Menurut Roslina, anak yang menyaksikan kekerasan tidak selalu langsung menunjukkan perilaku serupa. Pengalaman yang mereka lihat atau alami dapat tersimpan dan baru muncul ketika anak menghadapi situasi yang mirip.
Misalnya, anak yang terbiasa melihat kekerasan di rumah belum tentu langsung bersikap agresif di lingkungan keluarga. Namun, ketika menghadapi perselisihan dengan teman di sekolah, perilaku yang pernah diamatinya bisa muncul sebagai respons terhadap konflik tersebut.
Roslina mengibaratkan pengalaman itu seperti sesuatu yang tersimpan terlebih dahulu sebelum terlihat dalam perilaku anak.