“Yang dia lihat dalam tontonan, yang dia lihat dari sekitarnya, akan tampil nanti ketika dia ada dalam situasi yang similar atau mirip dengan situasi tersebut,” tuturnya.
Hal ini menjadi pengingat bahwa perilaku anak tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sosial tempat mereka tumbuh. Orang tua dan orang dewasa di sekitarnya memiliki peran penting dalam memberikan contoh bagaimana menghadapi perbedaan pendapat tanpa menggunakan kekerasan.
Selain kekerasan yang terjadi antar orang dewasa di rumah, Roslina juga menyoroti anggapan yang masih berkembang di masyarakat bahwa memukul anak merupakan cara untuk mendisiplinkan mereka atau lebih dikenal pola asuh ‘VOC’.
Menurutnya, hukuman fisik memang dapat membuat anak langsung diam atau berhenti melakukan sesuatu. Namun, respons tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa anak memahami kesalahannya atau belajar mengendalikan perilaku dengan baik.
“Kesannya seolah-olah saat itu juga anak langsung diam, patuh, tertib. Ini patuh karena anak tahu bahwa, oke, ya apakah dia sadarkan sesuatu? Bukan, belum tentu. Saat anak dipukul yang dia ingat adalah painful, ya sakit,” ungkap Roslina.