BENJOLAN pada payudara saat menyusui kerap membuat ibu khawatir. Kondisi tersebut bisa disebabkan oleh mastitis atau peradangan pada jaringan payudara.
Namun, benjolan juga dapat menjadi salah satu tanda kanker payudara sehingga penting bagi ibu untuk mengenali perbedaannya. Mastitis umumnya terjadi pada ibu menyusui dan dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti nyeri, kemerahan, pembengkakan, hingga demam.
Sementara itu, kanker payudara dapat muncul sebagai benjolan yang terasa keras dan pada tahap awal belum tentu menimbulkan perubahan pada kulit. Lantas, bagaimana cara membedakan benjolan akibat mastitis dengan benjolan yang perlu dicurigai sebagai kanker payudara?
Selain itu, kulit pada area yang mengalami peradangan dapat terlihat kemerahan. Ibu menyusui juga bisa mengalami demam dan merasa tidak nyaman pada tubuh.
Gejala tersebut muncul karena adanya proses peradangan. Pada sebagian kasus, mastitis berkaitan dengan infeksi dan memerlukan penanganan medis. Karena itu, ibu menyusui yang mengalami benjolan disertai kemerahan, rasa hangat, nyeri, atau demam sebaiknya tidak mengabaikan keluhan tersebut.
“Mastitis merupakan peradangan pada kelenjar payudara. Dari gejalanya, baik mastitis maupun kanker payudara memang bisa menimbulkan rasa nyeri. Namun, karakteristik nyerinya bisa berbeda,” ujar dr. Andi Sitti Tandina.
“Pada mastitis, karena terjadi peradangan, area payudara yang terkena biasanya terasa lebih hangat saat diraba,” lanjutnya.
Berbeda dengan mastitis, kanker payudara pada tahap awal dapat muncul sebagai benjolan yang terasa keras atau padat ketika diraba. dr. Andi Sitti Tandina menjelaskan bahwa pada kanker payudara stadium awal, perubahan warna kulit belum tentu terlihat.
Artinya, payudara bisa saja tampak normal meskipun terdapat benjolan yang perlu diperiksa lebih lanjut. Kanker payudara juga tidak selalu menimbulkan rasa nyeri. Karena itu, benjolan yang tidak terasa sakit bukan berarti pasti aman.
Selain benjolan, sejumlah tanda yang perlu diperhatikan. Antara lain, perubahan bentuk payudara, kulit yang tampak berlekuk atau menyerupai kulit jeruk, puting yang tertarik ke dalam, serta keluarnya cairan yang tidak biasa dari puting.
“Sementara itu, pada kanker payudara stadium awal, biasanya belum terlihat perubahan warna pada kulit. Namun, ketika diraba, benjolan dapat terasa lebih keras atau padat,” ucap dr. Andi Sitti Tandina.
“Pada peradangan seperti mastitis, tanda-tandanya bisa terlihat dari luar, misalnya kulit payudara tampak merah dan bengkak. Ketika diraba, area tersebut juga terasa lebih hangat. Selain itu, bisa muncul keluhan lain seperti demam dan badan terasa tidak nyaman,” lanjutnya.
dr. Andi Sitti Tandina mengatakan bahwa demam lebih jarang ditemukan pada kanker payudara dibandingkan pada kondisi peradangan seperti mastitis. Namun, tidak adanya demam juga tidak dapat digunakan untuk memastikan bahwa benjolan merupakan kanker.
Begitu pula, adanya demam dan kemerahan tidak selalu cukup untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi lain. Bahkan, terdapat jenis kanker payudara tertentu, seperti kanker payudara inflamasi, yang dapat menimbulkan kemerahan, pembengkakan, dan perubahan kulit sehingga menyerupai peradangan.
Oleh sebab itu, perbedaan gejala hanya dapat menjadi petunjuk awal, bukan dasar untuk menentukan diagnosis secara mandiri.
“Jarang (alami demam saat alami kanker payudara),” ucap dr. Andi Sitti Tandina.
Ibu menyusui sebaiknya memeriksakan diri ke dokter jika menemukan benjolan baru pada payudara. Utamanya jika benjolan menetap, terasa keras, atau disertai perubahan bentuk dan kondisi kulit.
Pemeriksaan juga diperlukan jika keluhan yang menyerupai mastitis tidak membaik atau justru semakin parah. Demam tinggi, kemerahan yang meluas, dan rasa nyeri yang berat perlu mendapat perhatian medis.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan, jika diperlukan, menyarankan pemeriksaan pencitraan seperti USG payudara. Pemeriksaan lanjutan lainnya dapat dilakukan sesuai temuan klinis.
(Djanti Virantika)