PERNAHKAH kamu merasa panik luar biasa karena kontak lensa (softlens) yang sedang dipakai mendadak hilang dari kornea mata? Di tengah rasa cemas, tak sedikit orang yang langsung berpikiran bahwa softlens masuk ke dalam mata atau tubuh.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama dalam unggahan video di akun Instagramnya memberikan penjelasan dari sudut pandang anatomi mata. Ia menegaskan bahwa softlens yang hilang tidak akan pernah bisa masuk ke organ dalam tubuh atau terdorong hingga ke belakang bola mata.
“Kita bedah dari anatominya dulu biar kalian paham. Bagian depan bola mata dan bagian dalam kelopak mata itu dilapisi konjungtiva, dan jaringan ini membentuk semacam kantong tertutup atau conjunctival fornix,” ujar dr. Aditya.
Menurutnya, struktur jaringan ini secara alami mengunci area mata, sehingga benda asing tidak memiliki jalur untuk berpindah ke bagian belakang bola mata.
“Jadi kalau kalian ngerasa softlens-nya kok hilang, ini biasanya dia terlipat atau bergeser dan nyangkut di bawah kelopak mata. Terutama kelopak mata bagian atas,” tambah dia.
Meski sensasi softlens terselip memicu rasa cemas, dr. Aditya mengingatkan bahwa ancaman terbesar kesehatan mata justru timbul dari kebiasaan buruk penggunanya, seperti lupa melepas softlens saat tidur.
“Nah, justru yang harus kamu takutkan itu bukan masalah si softlens-nya masuk ke dalam tubuh, tapi softlens yang enggak pernah dilepas bahkan sampai ketika kamu tidur. Jadi masuk 24 jam, dari malam sampai pagi sampai besoknya lagi,” jelas dr. Aditya.
Mengutip data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), ia menyebutkan bahwa tidur dengan lensa kontak dapat meningkatkan risiko infeksi mata hingga 6-8 kali lipat. Bahaya ini berkaitan erat dengan pasokan oksigen ke kornea mata.
“Kornea kita ini enggak punya pembuluh darah dan salah satu sumber oksigennya itu berasal langsung dari udara melalui air mata. Jadi ketika mata ditutup saat tidur, oksigen yang sampai ke kornea itu memang pasti akan berkurang,” ungkap dia.
Kondisi tersebut akan memburuk jika permukaan kornea tertutup lensa kontak sepanjang malam. Hal itu bisa menyebabkan hipoksia kornea, perubahan permukaan epitel, inflamasi, bahkan sampai kondisi yang mempermudah mikroorganisme ini menyebabkan infeksi pada mata. Bahkan parahnya bisa terjadi microbial keratitis, jadi infeksi serius pada kornea.
CDC mencatat bahwa pada tingkat yang parah, microbial keratitis dapat merusak struktur kornea hingga membutuhkan tindakan medis ekstrem berupa transplantasi kornea. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala infeksi mata sejak dini.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi mata merah, rasa nyeri, sensitif terhadap cahaya (silau), berair, keluar kotoran secara terus-menerus, hingga penglihatan yang mendadak kabur.
Bagi Anda yang kerap mengalami softlens terselip atau terlipat di bawah kelopak mata, dr. Aditya mengimbau agar tidak bertindak ceroboh.
“Jadi kalau kamu softlens-nya hilang, itu jangan dikorek-korek, jangan panik, apalagi pakai kuku nih, terus ditusuk-tusuk pakai apa pun. Bahaya,” tegas dr. Aditya.
Sebagai langkah awal yang aman, ikuti beberapa pertolongan pertama. Seperti berkedip secara perlahan untuk membantu memicu air mata merangsang pergeseran lensa, kemudiam teteskan lubricating eye drops (tetes mata pelembab) untuk melunakkan permukaan lensa kontak yang terlipat agar mudah bergeser keluar.
Setelah itu, periksa area lipatan kelopak mata bagian atas maupun bawah secara perlahan dan hati-hati tanpa menekan bola mata.
“Jadi kalau kamu softlens-nya hilang, itu jangan dikorek-korek, jangan panik, apalagi pakai kuku nih, terus ditusuk-tusuk pakai apa pun. Bahaya. Jadi simpel, coba berkedip pelan-pelan, gunakan lubricating eye drops, dan periksa bagian bawah kelopak itu dengan hati-hati, atau bagian atas. Dan jangan pernah dicolok-colok,” beber dia.
Apabila lensa kontak tetap tidak ditemukan dan mata mulai menunjukkan gejala nyeri atau memerah, dr. Aditya menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis mata.
“Dan kalau kamu tetap nggak nemu, terus mata makin sakit, makin merah, periksa ke dokter mata. Dan ingat, jangan sampai lupa lepas softlens ketika kamu tidur. Itu kuncinya,” pungkas dr. Aditya.
(Djanti Virantika)