Proses adaptasi ini memicu munculnya keringat berlebih, rasa lelah yang datang lebih cepat, hingga penurunan daya konsentrasi. Rentetan ketidaknyamanan fisik inilah yang pada akhirnya menekan ketahanan emosional seseorang.
"Udara panas nggak otomatis bikin semua orang jadi mudah marah. Tapi suhu panas bisa membuat tubuh kita merasa tidak nyaman, dan ketidaknyamanan itulah yang bisa mendorong emosi negatif,” kata Bang Sap.
Saat kepanasan, imbuhnya, tubuh seseorang harus bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tubuh agar tetap stabil. Makanya, seseorang jadi berkeringat, cepat lelah, konsentrasi menurun, dan rasa tidak nyaman pun menjadi naik.
Dampak dari cuaca panas juga merembet hingga malam hari, merusak kualitas tidur yang sejatinya menjadi momen krusial untuk pemulihan energi fisik dan mental. Bang Sap kemudian membeberkan hasil temuan riset kesehatan internasional yang menunjukkan korelasi kuat antara lonjakan suhu dan kesehatan jiwa.
"Kalau malamnya juga panas, kualitas tidur kita pun jadi ikut terganggu. Pada studi JAMA Psychiatry yang dilakukan di Amerika menemukan adanya kaitan antara kunjungan IGD di beberapa sampel rumah sakit. Ternyata pada hari panas ekstrem terjadi peningkatan kunjungan dengan keluhan berkaitan dengan gangguan kesehatan mental," kata Bang Sap.