INTERMITTENT fasting menjadi salah satu pola makan yang banyak dilakukan untuk membantu mengatur berat badan dan kesehatan metabolik. Pola ini dilakukan dengan mengatur waktu makan dan waktu berpuasa dalam satu periode tertentu.
Bagi orang yang menjalani intermittent fasting, muncul pertanyaan sederhana. Apakah bolehkah minum kopi selama waktu puasa?
Dilansir dari Healthy Line, orang yang melakukan intermittent fasting, jika ingin meminum kopi, ini bergantung pada jenis kopi yang diminum. Kopi hitam tanpa tambahan gula, susu, krimer, atau bahan berkalori umumnya tidak memberikan kalori dalam jumlah yang cukup besar untuk secara bermakna mengganggu kondisi puasa.
Secangkir kopi hitam sekitar 240 mililiter hanya mengandung beberapa kalori dan sangat sedikit protein serta lemak. Karena kandungan kalorinya sangat rendah, konsumsi kopi hitam dalam jumlah moderat umumnya tidak dianggap mengganggu intermittent fasting secara signifikan.
Bagi sebagian orang, kopi juga dapat membantu melewati periode puasa. Pasalnya, kafein dapat memberikan efek meningkatkan kewaspadaan dan pada sebagian orang membantu menekan nafsu makan. Namun, hal ini bukan berarti semua jenis kopi aman dikonsumsi selama periode puasa.
Kopi yang sudah ditambahkan gula, susu, krimer, sirup, atau bahan lain yang mengandung kalori dapat mengubah asupan energi selama periode puasa.
Secangkir kopi hitam berbeda dengan latte, cappuccino, kopi susu, atau minuman kopi dengan tambahan sirup dan gula. Minuman tersebut dapat mengandung kalori yang jauh lebih tinggi.
Jika dikonsumsi selama waktu puasa, tambahan kalori tersebut dapat mengurangi tujuan pembatasan asupan energi yang menjadi bagian dari intermittent fasting. Karena itu, jika tujuan utama seseorang adalah mempertahankan kondisi puasa, kopi hitam tanpa gula merupakan pilihan yang paling sederhana.
Klaim yang sering beredar bahwa seseorang tetap dianggap berpuasa selama konsumsi tidak melebihi batas tertentu, misalnya 50–75 kalori, tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat sebagai aturan universal. Respons metabolik terhadap makanan atau minuman juga dapat berbeda pada setiap orang.