Bagi warga pegunungan, babi bukan cuma hewan ternak biasa, melainkan simbol kekayaan dan kebanggaan. Penduduk asli Lembah Baliem sangat mengistimewakan hewan ini. Taring babi atau yake sering dipakai kaum pria sebagai pelengkap pakaian adat.
Taring babi melambangkan keberanian, status sosial, dan pencapaian hidup. Makin besar dan melengkung taring yang dipakai, makin tinggi pula penghormatan masyarakat terhadap orang tersebut.
Bakar batu adalah tradisi perayaan adat untuk menyambut pernikahan, kelahiran, atau bentuk rasa syukur. Masyarakat akan membakar batu bersama bahan makanan seperti daging dan ubi hingga matang.
Bagi umat Muslim, daging babi biasanya diganti dengan daging ayam. Cara menyalakan apinya pun terbilang unik, yaitu dengan menggesekkan kayu hingga muncul percikan api. Makna tradisi ini bukan sekadar memasak, melainkan melambangkan peleburan perbedaan dan penghentian perselisihan masa lalu lewat momen makan bersama.
Tradisi mengawetkan jasad rupanya bukan cuma milik Mesir. Di Lembah Baliem, ada mumi warga Suku Dani yang sudah berusia sekitar 300 tahun. Salah satu yang paling tersohor adalah mumi Wim Matok Mabel, seorang mantan panglima perang yang diperkirakan sudah diawetkan lebih dari 370 tahun.