JAKARTA - Pernahkah kamu melintas di jalan raya dan melihat bangkai tikus yang pipih akibat tergilas roda kendaraan? Bagi sebagian besar masyarakat, pemandangan tersebut mungkin hanya dianggap sebagai hal menjijikkan yang akan mengering dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Namun, di balik kotor dan mengganggunya pemandangan tersebut, ada ancaman kesehatan serius yang mengintai para pengguna jalan setiap harinya.
Bangkai tikus yang hancur di jalanan ternyata membawa penyakit berbahaya yang siap menyebar tanpa disadari. Praktisi Bisnis Lingkungan, Bang Sap, membagikan edukasi mengenai ancaman laten ini melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya.
"Tikus yang mati kelindes di jalan itu jauh lebih berbahaya dari kelihatannya loh. Buat kita, itu cuma pemandangan jijik, kan? Kelindes, banyak mobil yang nanti lewat juga bakal kering sendiri. Gitu, kan? Tapi ternyata, ada bakteri berbahaya yang ada di ginjalnya, dan pas dia kelindes, isinya keluar semua ke jalan yang kita lewati tiap hari," ujar Bang Sap, dikutip Minggu (9/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa sumber bahaya terbesar dari hewan pengerat ini bukanlah gigitannya, melainkan mikroorganisme yang menetap di dalam organ tubuhnya. "Begini, yang bikin tikus berbahaya itu bukan gigitannya, tapi bakteri yang bernama Leptospira, yang hidup di ginjal tikus seumur hidupnya," ucapnya.
Pada kondisi normal, bakteri tersebut biasanya menyebar ke lingkungan melalui urine tikus. Namun, ketika tikus mati mengenaskan di jalan akibat terlindas kendaraan, proses penyebaran bakteri tersebut menjadi jauh lebih masif dan agresif.
"Biasanya, bakteri ini keluar lewat kencing tikus. Tapi begitu tikusnya kelindes ban, ginjal dan isi perutnya pecah dan bakterinya langsung tumpah ke aspal, lalu kena ban motor, muncrat ke celana, nempel ke sandal jepit, dan menyebar ke mana-mana," papar Bang Sap.