Manfaat yang jauh lebih besar justru datang dari senyawa kimia alami yang dihirup saat tubuh berada sangat dekat dengan pohon. Pohon melepaskan senyawa bernama phytoncide (fitonsida) yang berdampak positif pada sistem saraf manusia.
"Kedua, dan ini yang lebih besar. Apa yang kamu hirup waktu wajah kamu sedekat itu sama pohon. Karena pohon itu mengeluarkan senyawa namanya fitonsida. Aslinya, itu senjata pertahanan mereka buat melawan jamur dan serangga, dan kulit kayu itu salah satu sumber utamanya. Tapi pas manusia menghirupnya, efeknya jadi beda. Sistem saraf kita pindah mode, dari siaga ke istirahat. Detak jantung melambat, tekanan darah turun, dan hormon stres ikut turun," tambah Bang Sap.
Efek menenangkan ini bukan sekadar klaim psikologis sesaat, melainkan sudah dibuktikan lewat berbagai riset ilmiah kesehatan. Dalam beberapa penelitian, memeluk pohon bisa meredakan hormonal tres dan kortisol dalam tubuh
"Dan ini udah diteliti serius. Kadar kortisol dan hormon stres kita turun signifikan selama berada di antara pohon. Penelitian lain nujukin, aktivitas sel imun pembunuh alami naik lebih dari 50 persen setelah satu pekan dan efeknya bisa bertahan lebih dari 30 hari. Di Jepang, praktik ini punya nama sendiri: Shinrin-yoku, dan diakui sebagai bagian dari kesehatan preventif," ungkap dia.
Meski demikian, Bang Sap menyoroti akses masyarakat terhadap area hijau di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta yang masih sangat terbatas. Ia menyoroti minimnya proporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berpotensi membatasi hak masyarakat untuk mendapatkan terapi alami ini.
"Masalahnya, pohonnya udah makin susah dicari. Ruang Terbuka Hijau di Jakarta aja baru 5,6 persen. Jauh dari target 30 persen yang harusnya dicapai paling lambat 2045. Ruang hijau yang cuma ada di perumahan elit itu bukan solusi lingkungan. Itu fasilitas premium yang kebetulan warnanya hijau," tutur Bang Sap.
Maka dari itu, Bang Sap mengajak masyarakat untuk lebih serius menjaga keberadaan pohon dan RTH demi kesehatan fisik maupun mental masyarakat perkotaan.
"Jangan-jangan, yang perlu kita selamatkan duluan bukan dompet kita, tapi pohonnya, biar nanti masih ada yang bisa kita peluk," pungkas dia.
(Djanti Virantika)