Kebiasaan Gen Z yang Ganggu Kesehatan Jantung

Niko Prayoga , Jurnalis
Jum'at 07 Agustus 2026 22:09 WIB
Kebiasaan Gen Z yang Ganggu Kesehatan Jantung (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA - Kebiasaan sehari-hari yang dianggap sepele, mulai dari merokok, mengonsumsi makanan dan minuman manis, hingga jarang berolahraga, ternyata dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jantung pada Generasi Z (Gen Z). Jika berlangsung dalam jangka panjang, pola hidup tersebut dapat memicu berbagai penyakit yang menjadi faktor risiko penyakit jantung hingga gagal jantung.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bobby Arfhan Anwar, melalui edukasi di akun Instagram pribadinya mengungkap sejumlah kebiasaan anak muda yang berpotensi meningkatkan risiko masalah jantung dalam satu hingga dua dekade mendatang.

Salah satu kebiasaan yang disoroti adalah merokok. Menurutnya, penggunaan rokok konvensional maupun rokok elektrik (vape) pada usia muda dapat berdampak buruk terhadap kesehatan pembuluh darah.

"Merokok itu warisan kuno generasi milenial dan di atasnya. Tidak ada manfaatnya, melainkan memicu kecanduan dan merusak pembuluh darah jantung. Ngevape pun bukan berarti lebih aman, karena yang dibutuhkan tubuh hanyalah udara bersih," ujar dr. Bobby.

Selain rokok, pola makan Gen Z juga menjadi perhatian. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan jantung.

"Gen Z yang hobi makan dan minum manis, tiap hari harus ada yang manis-manis. Konsumsi gula yang melebihi batas rekomendasi harian (maksimal 50 gram/hari) membuat kita berisiko terkena diabetes. Diabetes inilah yang meningkatkan risiko sakit jantung di kemudian hari," tuturnya.

Risiko Makan Junk Food

Risiko tersebut dapat semakin besar apabila kebiasaan mengonsumsi makanan manis dibarengi dengan konsumsi makanan cepat saji (fast food) dan makanan ultra-proses (ultra-processed food/UPF) yang tinggi garam.

"Makanan cepat saji dan UPF tinggi akan garam. Kelebihan konsumsi garam harian (lebih dari 5 gram/hari) meningkatkan risiko hipertensi. Hipertensi yang tidak dikontrol bisa berujung pada sakit jantung," tambah dr. Bobby.

Tak hanya pola makan, kurangnya aktivitas fisik atau sedentary lifestyle juga dapat memengaruhi kesehatan jantung pada usia produktif. Minimnya aktivitas fisik secara konsisten dapat meningkatkan risiko penumpukan lemak tubuh hingga obesitas.

"Gen Z yang hobinya mager dan tidak ada waktu khusus olahraga, lingkar perutnya akan bertambah. Lama-lama ini memicu sindrom metabolik. Jantung yang tidak pernah dilatih dengan olahraga kardio sangat rentan sakit. Makin gemuk seseorang, kerja jantungnya pun makin berat," jelasnya.

Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sejumlah faktor risiko tersebut dapat berkontribusi terhadap penyakit jantung kronis yang pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi gagal jantung. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh berbagai penyakit, termasuk penyakit arteri koroner akibat penyumbatan pembuluh darah, hipertensi, penyakit ginjal, hingga diabetes melitus.

Penyakit jantung juga menjadi salah satu persoalan kesehatan yang mendapat perhatian pemerintah. Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya, mengungkapkan bahwa penyakit jantung termasuk salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

"Di Indonesia ada tiga penyakit dengan angka kematian tertinggi, yaitu stroke sebanyak 300 ribuan, jantung 200 ribuan, kemudian kanker. Khusus untuk jantung, gagal jantung adalah salah satu penyebab kematian yang harus kita waspadai," kata Azhar dalam konferensi pers di RSUP Cipto Mangunkusumo, Rabu (5/8/2026).

Azhar menambahkan, Indonesia masih menghadapi keterbatasan donor jantung, sementara transplantasi menjadi salah satu pilihan terapi bagi pasien dengan gagal jantung stadium lanjut.

"Jika terjadi kegagalan kronis, pilihan utamanya adalah transplantasi jantung. Namun, mencari donor dan kesiapan dokternya masih menjadi tantangan besar," ucapnya.

Karena itu, pengembangan teknologi menjadi salah satu upaya yang dapat mendukung penanganan pasien gagal jantung. Kementerian Kesehatan memberikan fasilitas dan izin kepada RSUP Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk menerapkan teknologi Left Ventricular Assist Device (LVAD) melalui kerja sama dengan HeartSPAN.ai dari Borderless Healthcare Group (BHG).

LVAD merupakan perangkat berupa pompa mekanis yang membantu memompa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Teknologi tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pilihan penanganan bagi pasien dengan kondisi gagal jantung tertentu.

Direktur Utama RSCM, Supriyanto Dharmoredjo, mengatakan teknologi pompa jantung buatan tersebut menjadi salah satu perkembangan baru dalam penanganan pasien gagal jantung di Indonesia. RSCM juga telah melakukan pemasangan alat tersebut kepada seorang pasien.

Keberhasilan tersebut dinilai dapat membuka alternatif penanganan bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang memiliki pilihan terapi terbatas, salah satunya karena sulitnya memperoleh donor jantung.

"Alat LVAD seperti ini pernah ada di dunia, tetapi tidak sekecil ini. Berdasarkan data dari China, setelah dipasang pada sekitar 1.000 pasien, tingkat keberhasilannya mencapai lebih dari 80 persen," terang Supriyanto.

Sementara itu, Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Dr. Wei Siang Yu, menilai penerapan teknologi LVAD perlu diiringi dengan kesiapan ekosistem pelayanan kesehatan.

"Ini bukan sekadar menghadirkan perangkat medis, melainkan membangun ekosistem pelayanan gagal jantung yang berkelanjutan melalui pelatihan, inovasi, dan kolaborasi internasional," pungkasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya