Keberhasilan tersebut dinilai dapat membuka alternatif penanganan bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang memiliki pilihan terapi terbatas, salah satunya karena sulitnya memperoleh donor jantung.
"Alat LVAD seperti ini pernah ada di dunia, tetapi tidak sekecil ini. Berdasarkan data dari China, setelah dipasang pada sekitar 1.000 pasien, tingkat keberhasilannya mencapai lebih dari 80 persen," terang Supriyanto.
Sementara itu, Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Dr. Wei Siang Yu, menilai penerapan teknologi LVAD perlu diiringi dengan kesiapan ekosistem pelayanan kesehatan.
"Ini bukan sekadar menghadirkan perangkat medis, melainkan membangun ekosistem pelayanan gagal jantung yang berkelanjutan melalui pelatihan, inovasi, dan kolaborasi internasional," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)