JAKARTA — Tidur tanpa bantal kerap dipercaya dapat membantu mengatasi nyeri hingga gangguan pada tulang belakang. Namun, menurut dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, anggapan tersebut tidak bisa digeneralisasi karena manfaatnya bergantung pada bagian tulang belakang yang mengalami masalah.
Dalam unggahan video di kanal YouTube miliknya, dr. Tirta menjelaskan bahwa efektivitas tidur tanpa bantal sangat ditentukan oleh lokasi kelainan atau cedera pada tulang belakang.
"Tergantung, tulang belakang tuh luas. Ada segmen servikal, torakal, lumbal, dan sakral," kata dr. Tirta.
Ia menjelaskan bahwa gangguan pada tulang belakang sangat beragam, mulai dari kompresi, fraktur, dislokasi, hingga hernia nukleus pulposus (HNP) atau saraf terjepit. Karena itu, menghilangkan penggunaan bantal tidak serta-merta menjadi solusi untuk semua kondisi tersebut.
"Jadi kalau dijawab masalah pada tulang belakang selesai dengan tidur tanpa bantal, itu tidak menjawab solusinya," ujarnya.
Menurut dr. Tirta, tidur tanpa bantal umumnya hanya bermanfaat apabila keluhan berasal dari area leher atau segmen servikal. Penggunaan bantal yang terlalu tinggi dapat menyebabkan otot leher menjadi tegang.
"Misal bagian servikal, bantal terlalu tinggi, jadi menyebabkan tension pada otot-otot di leher, trapezius, sternocleidomastoideus, dan servikalnya jadi melengkung. Benar, bisa tanpa bantal atau dikurangi tinggi bantalnya," jelas dr. Tirta.
Namun, kondisinya berbeda jika gangguan terjadi pada area pinggang bawah atau segmen lumbal. Pada kasus seperti ini, tidur tanpa bantal tidak memberikan efek penyembuhan. Sebaliknya, penderita justru memerlukan penyangga khusus atau lumbar support agar posisi tulang belakang tetap ergonomis.
Menurutnya, kebutuhan akan lumbar support juga sering dirasakan saat seseorang harus duduk dalam waktu lama, misalnya ketika bepergian menggunakan kereta.
"Makanya banyak orang yang enggak nyaman duduk di kereta. Bantalnya bukan buat leher, tapi dikasih di belakang lumbal biar ada lumbar support. Jadi, tergantung masalahnya di segmen tulang belakang mana," tambahnya.
Sementara itu, gangguan pada segmen torakal atau punggung bagian tengah dinilai lebih kompleks. dr. Tirta mengatakan kondisi ini kerap ditemukan pada penderita skoliosis, yang cukup banyak dialami perempuan.
Ia mengingatkan bahwa skoliosis dengan derajat kelengkungan yang berat tidak dapat diatasi hanya dengan mengubah posisi tidur atau tidak menggunakan bantal. Kondisi tersebut memerlukan penanganan medis oleh dokter spesialis ortopedi konsultan tulang belakang.
"Kalau skoliosisnya lebih dari 25 derajat, sudah harus menjalani tindakan operasi. Karena kalau derajat skoliosisnya lebih dari 25 derajat, itu bisa menyebabkan gangguan organ di sekitarnya, seperti lambung, paru-paru, dan hati," pungkas dr. Tirta.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)