JAKARTA - Pernahkah kamu merasa sudah rajin pakai skincare, tapi kulit tetap saja bermasalah? Mulai dari jerawat yang tiba-tiba muncul sampai kulit yang terasa lebih sensitif.
Nah, masalahnya mungkin bukan pada produk yang kamu pakai, melainkan karena kamu sedang stres!
Kulit adalah organ terbesar di tubuh. Saat pikiran tegang, tubuh akan memproduksi hormon stres (kortisol) lebih banyak. Lonjakan kortisol ini bisa mengacaukan sinyal saraf tubuh dan memicu berbagai masalah kulit.
Dirangkum dari Healthline, yuk kenali 8 tanda kulit dampak dari stres dan bagaimana cara menenangkannya.
Bahkan sebelum faktor dari dalam tubuh, sinar ultraviolet (UV) bisa membuat kulit stres secara fisik dan melemahkan pertahanannya. Hal ini bisa berujung pada kulit terbakar, flek hitam, hingga risiko yang lebih parah.
Cara mengatasinya, gunakan tabir surya (sunscreen) setiap pagi. Kamu juga bisa memperkuat perlindungan kulit dari dalam dengan mengonsumsi buah-buahan kaya antioksidan dan vitamin C (seperti stroberi atau delima).
Pernah gatal-gatal, eksim kumat, atau kulit kemerahan setelah minggu yang berat atau kurang tidur? Saat otak bekerja terlalu keras, kemampuan kulit untuk melindungi dirinya bisa menurun. Ini membuat kulit jadi susah seimbang dan gampang meradang.
Tenang, coba kelola stres jangka panjang lewat meditasi atau yoga. Perbaiki juga asupan makanan dengan menghindari makanan olahan dan pemanis buatan, serta perbanyak konsumsi buah dan lemak sehat seperti minyak zaitun.
Stres sangat berkaitan erat dengan jerawat, terutama pada perempuan. Stres bisa mengacaukan hormon yang akhirnya memicu produksi sebum (minyak) berlebih di wajah.
Untuk menangkalnya, coba kamu sediakan waktu 5-10 menit sehari untuk relaksasi atau olahraga secara rutin. Untuk jerawatnya, kamu bisa menggunakan obat totol jerawat (spot treatment) yang mengandung asam salisilat (salicylic acid) di malam hari. Tapi ingat, jangan pakai berlebihan agar kulit tidak kering!
Saat stres, terkadang kamu tanpa sadar suka mencabuti rambut atau menggigit kuku. Stres juga bisa membuat kulit kepala bermasalah dan rambut lebih gampang rontok.
Nah, cara mengatasinya, hindari mandi dengan air yang terlalu panas agar kulit kepala tidak semakin rusak. Pastikan kamu makan makanan bergizi dan rutin berolahraga. Namun, jika kondisinya parah, sebaiknya konsultasikan ke dokter kulit karena bisa jadi ada kondisi medis lain.
Tingkat kortisol yang tinggi secara tidak normal bisa merusak protein pada kulit. Akibatnya, kulit bisa terlihat setipis kertas, gampang memar, dan lebih sensitif.
Jika stresmu sudah di tahap kronis dan menyebabkan kulit sangat tipis, ini mungkin terkait dengan sindrom Cushing. Sebaiknya, segera periksakan diri ke dokter agar hormon kortisolmu bisa ditangani dengan tepat.
Stres berat dapat melemahkan lapisan luar kulit (epidermis). Akibatnya, kulit jadi lebih rentan terkena infeksi dan proses penyembuhan luka, termasuk bekas jerawat, menjadi jauh lebih lambat.
Cara mengobatinya, kamu bisa perbaiki skin barrier dengan produk yang mengandung gliserin, hyaluronic acid, atau zinc. Jangan lupa juga untuk terus menghidrasi kulit dari dalam dengan minum air putih yang cukup.
Stres sering kali membuat seseorang kurang tidur karena tubuh terus memompa adrenalin bahkan di malam hari. Efek fisiknya? Tentu saja lingkaran hitam atau kantung mata yang terlihat jelas.
Untuk itu, cobalah buat rutinitas tidur yang menenangkan. Kamu bisa pakai diffuser minyak esensial, memutar white noise, dan wajib menghindari layar gawai (HP/laptop) minimal dua jam sebelum tidur.
Stres psikologis bikin seseorang sering tanpa sadar mengerutkan dahi atau cemberut. Lama-kelamaan, ekspresi tegang ini akan meninggalkan jejak permanen berupa garis halus dan kerutan.
Cara mengatasinya, kamu bisa praktikkan senam wajah. Pijatan pada area yang sering tegang seperti dahi, alis, dan rahang bisa membuat otot wajah lebih rileks. Kamu juga bisa memakai jade roller dingin untuk membantu mengurangi bengkak di wajah.
Stres itu wajar dan setiap orang pasti pernah mengalaminya. Daripada membanding-bandingkan beban pikiran dengan orang lain, lebih baik fokuslah merawat dirimu sendiri. Ingat, menjaga kesehatan kulit tidak cuma soal rutinitas skincare yang panjang, tapi juga tentang memberikan waktu bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat.
(Agustina Wulandari )