Penyebab pasti sleep paralysis belum diketahui secara jelas. Namun, kondisi ini sering dikaitkan dengan gangguan pada siklus tidur, terutama saat tubuh tidak sepenuhnya berpindah antara fase tidur REM dan kondisi sadar.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko sleep paralysis antara lain kurang tidur atau pola tidur tidak teratur, stres dan kelelahan, gangguan tidur seperti Narcolepsy, dan obstructive Sleep Apnea. Ada juga faktor gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, atau Post-Traumatic Stress Disorder.
Faktor lain yang mempengaruhi adalah perubahan jadwal tidur, misalnya karena kerja shift. Terakhir adalah penggunaan obat tertentu atau zat tertentu.
Sleep paralysis terjadi ketika otak mulai sadar saat tubuh masih berada dalam kondisi “lumpuh sementara” pada fase tidur REM, yaitu fase ketika mimpi biasanya terjadi. Secara medis, sleep paralysis tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kematian atau gangguan fisik permanen. Namun, pengalaman ini dapat sangat mengganggu secara psikologis karena sering disertai halusinasi yang terasa nyata.
Pada beberapa orang, sleep paralysis yang sering terjadi dapat memengaruhi kualitas tidur dan menimbulkan kecemasan menjelang tidur. Dokter biasanya mendiagnosis sleep paralysis melalui wawancara medis dan evaluasi pola tidur.
(Djanti Virantika)