JAKARTA - Malam satu Suro menjadi salah satu momen yang dianggap istimewa dalam tradisi masyarakat Jawa. Bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah, malam tersebut kerap diisi berbagai ritual budaya yang diwariskan secara turun-temurun, mulai dari kirab pusaka, pawai obor, hingga tradisi menjamas atau membersihkan keris pusaka.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, keris bukan hanya sekadar senjata tradisional. Benda pusaka ini memiliki nilai sejarah, filosofi, seni, dan budaya yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, perawatan keris dilakukan secara khusus, salah satunya melalui ritual pencucian yang biasanya digelar saat malam 1 Suro.
Dalam dunia perkerisan, keris dikenal memiliki dua aspek utama, yakni aspek eksoteris dan esoteris. Aspek eksoteris berkaitan dengan bentuk fisik keris, seperti pamor, desain, teknik pembuatan, hingga nilai estetikanya. Sementara aspek esoteris lebih mengarah pada makna simbolis, filosofi, dan nilai spiritual yang dipercaya melekat pada pusaka tersebut.
Tradisi menjamas keris dipercaya sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus upaya merawat kondisi fisik pusaka agar tetap terjaga. Proses ini juga menjadi momentum untuk mengenang para empu atau pembuat keris yang telah mewariskan karya-karya bersejarah kepada generasi berikutnya.
Dalam tradisi perawatan keris, terdapat sejumlah perlengkapan yang biasa digunakan. Salah satunya adalah wadah berisi air yang digunakan untuk membersihkan bilah keris.
Selain itu, bunga setaman yang terdiri dari bunga melati, mawar merah, mawar putih, kenanga, dan kantil kerap dicampurkan ke dalam air sebagai bagian dari tradisi. Beberapa orang juga menggunakan dupa atau kemenyan saat prosesi berlangsung.