Untuk membersihkan karat atau noda pada bilah keris, biasanya digunakan belimbing wuluh atau jeruk nipis. Setelah proses pembersihan selesai, keris kemudian diberi lapisan minyak khusus, seperti minyak cendana, minyak melati, minyak seribu bunga, atau minyak jamas agar bilah tetap terawat dan tidak mudah berkarat.
Kain mori atau kain kafan juga kerap digunakan untuk membungkus kembali keris yang telah dibersihkan sebelum disimpan di tempatnya.
Menurut pecinta dan kolektor keris sepuh, Raden Ridwan Yusuf, tata cara tersebut merupakan warisan yang telah lama diajarkan para empu dalam merawat pusaka.
"Itu merupakan bagian dari tradisi perawatan keris yang diwariskan secara turun-temurun oleh para empu dan leluhur," ujarnya.
Raden Ridwan menjelaskan bahwa pada masa lalu, pembuatan keris sering kali disesuaikan dengan kebutuhan pemiliknya. Seorang petani, misalnya, dapat memesan keris yang melambangkan harapan akan hasil panen yang melimpah. Sementara bagi kalangan bangsawan atau raja, keris dibuat dengan simbol-simbol yang mencerminkan kepemimpinan, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat.
Salah satu keris yang dianggap istimewa olehnya adalah keris berdapur Singobarong yang merupakan peninggalan kerajaan. Keris tersebut memiliki pamor yang sarat makna, melambangkan keberanian, kebijaksanaan, serta harapan agar pemimpin mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.