Salah satunya adalah peningkatan kadar asam lemak bebas (free fatty acid) yang terjadi saat tubuh berpuasa dalam waktu lama. Kondisi tersebut dapat mengganggu sensitivitas insulin pada organ-organ penting, seperti hati dan otot.
Selain itu, kebiasaan melewatkan sarapan juga dapat memengaruhi ritme sirkadian tubuh yang berperan dalam mengatur berbagai fungsi biologis, termasuk produksi dan kerja insulin.
Dampak tersebut dinilai lebih besar pada individu yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
“Orang yang overweight atau obesitas lebih rentan terhadap efek tidak sarapan karena secara umum memiliki kadar asam lemak bebas yang lebih tinggi dalam darah,” jelasnya.
Karena itu, dr. Adam mengingatkan agar keputusan untuk menjalani pola makan tertentu, termasuk melewatkan sarapan, disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing dan tidak hanya mengikuti tren diet yang sedang populer.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)