JAKARTA - Kasus baby blues di Indonesia masih tergolong tinggi. Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2024 menunjukkan sekitar 57 persen (6 dari 10) ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues setelah melahirkan.
Kondisi tersebut membuat Indonesia disebut memiliki angka risiko baby blues yang cukup tinggi di kawasan Asia. Baby blues sendiri merupakan gangguan emosional ringan yang umumnya muncul setelah persalinan.
Perubahan fisik dan mental pascamelahirkan menjadi salah satu faktor pemicunya. Rasa nyeri pada masa nifas, kelelahan akibat kurang tidur selama proses persalinan, hingga kecemasan dalam merawat bayi dapat memengaruhi kondisi psikologis ibu.
Selain itu, tekanan emosional ketika bayi harus menjalani perawatan di rumah sakit juga dapat memperburuk situasi. Kondisi tersebut membuat ibu lebih rentan mengalami stres hingga muncul gejala baby blues.
Secara umum, baby blues syndrome ditandai dengan perasaan sedih, mudah menangis, cemas, hingga perubahan suasana hati setelah melahirkan. Kondisi ini biasanya berlangsung sementara, mulai dua hari hingga beberapa minggu setelah bayi lahir.