Menkes menerangkan, protein membantu memperlambat proses pengosongan lambung sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama. Lemak baik dari alpukat juga membantu menjaga kestabilan energi tanpa lonjakan gula darah yang tajam.
Sebaliknya, konsumsi karbohidrat sederhana berlebihan saat sahur bisa memicu siklus lapar cepat. Dalam jangka panjang, pola seperti ini berisiko meningkatkan berat badan serta memperburuk kontrol gula darah, terutama pada masyarakat dengan risiko diabetes.
Imbauan Sahur Seimbang
Menkes tetap menegaskan bahwa karbohidrat bukan musuh, tetapi porsinya perlu diatur. Ia menyarankan memilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oat, atau roti gandum dalam jumlah cukup, dikombinasikan dengan protein, serat, serta lemak sehat.
“Kuncinya bukan sekadar kenyang saat sahur, tapi bagaimana energi bisa bertahan sampai berbuka. Dengan komposisi gizi seimbang dan biaya yang tetap terjangkau, masyarakat bisa menjalani puasa dengan lebih sehat dan produktif,” tutupnya.
(Rani Hardjanti)