JAKARTA - Alasan ekonomi yang kerap menjadi pertimbangan memilih menu sahur. Padahal, menu sahur sehat tidak selalu lebih mahal.
Setelah menantang buka puasa dengan yang manis alami yakni kurma, kini Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kali ini menatang mencontohkan, perbandingan sederhana biaya menu sehat.
Perbandingan itu diungkapkan setelah menyoroti kebiasaan makan sahur dengan mi instan dengan nasi. Menu itu sama-sama karbohidrat atau double karbo yang memiliki dampak bagi gula darah, melonjak dan turun dengan cepat. Walhasil pada saat puasa akan terasa lebih lapar.
Menkes pun memberikan hitung-hitngan, satu porsi mie instan dengan tambahan nasi putih rata-rata menghabiskan sekitar Rp10.000-Rp15.000, tergantung harga di masing-masing daerah dan tambahan lauk. Harga tersebut setara dengan seporsi nasi uduk sederhana di warung sekitar Rp13.000.
Sementara itu, alternatif sahur tinggi protein dan lemak baik bisa tetap terjangkau. Misalnya:
- Dua butir telur rebus sekitar Rp5.000
- Setengah buah alpukat ukuran sedang sekitar Rp7.500 (jika satu buah Rp15.000)
- Total biaya sahur sehat tersebut sekitar Rp12.500–Rp13.000.
“Dengan biaya yang kurang lebih sama, kandungan gizinya berbeda jauh. Protein dan lemak baik membuat rasa kenyang lebih lama dan gula darah lebih stabil,” jelasnya, seperti dikutip dari akun Instagramnya, Minggu (1/3/2026).
Mengapa Sahur Protein Lebih Tahan Lama?
Menkes menerangkan, protein membantu memperlambat proses pengosongan lambung sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama. Lemak baik dari alpukat juga membantu menjaga kestabilan energi tanpa lonjakan gula darah yang tajam.
Sebaliknya, konsumsi karbohidrat sederhana berlebihan saat sahur bisa memicu siklus lapar cepat. Dalam jangka panjang, pola seperti ini berisiko meningkatkan berat badan serta memperburuk kontrol gula darah, terutama pada masyarakat dengan risiko diabetes.
Imbauan Sahur Seimbang
Menkes tetap menegaskan bahwa karbohidrat bukan musuh, tetapi porsinya perlu diatur. Ia menyarankan memilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oat, atau roti gandum dalam jumlah cukup, dikombinasikan dengan protein, serat, serta lemak sehat.
“Kuncinya bukan sekadar kenyang saat sahur, tapi bagaimana energi bisa bertahan sampai berbuka. Dengan komposisi gizi seimbang dan biaya yang tetap terjangkau, masyarakat bisa menjalani puasa dengan lebih sehat dan produktif,” tutupnya.
(Rani Hardjanti)