JAKARTA - Berbagai jenis kurma menjadi rekomendasi untuk santap sahur dan berbuka. Selain dianjurkan Rasulullah SAW, kurma juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh selama berpuasa.
Kurma sendiri memiliki beberapa jenis, yakni kurma kering dan kurma basah. Namun, tahukah Anda bahwa Rasulullah SAW menganjurkan berbuka puasa dengan kurma basah?
Pendakwah sekaligus konsultan kesehatan, Zaidul Akbar, menjelaskan alasan kurma basah baik menjadi takjil saat berbuka puasa. Kurma ini memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan tubuh, terutama saat dikonsumsi ketika berbuka puasa.
“Rasulullah SAW berbuka puasa dengan kurma basah. Kurma basah itu kandungan airnya masih cukup tinggi,” ungkap dr. Zaidul dalam kanal YouTube dr. Zaidul Akbar Official, Senin (23/2/2026).
Mengonsumsi kurma basah memiliki keunggulan, terutama setelah tubuh berpuasa selama lebih dari 12 jam. Kandungan kalori yang cukup tinggi serta rasa manis alami membuat kurma ini cocok untuk mengembalikan energi.
dr. Zaidul mengatakan kurma basah memiliki kadar air dan gula yang cukup tinggi sehingga baik dikonsumsi saat berbuka puasa. Dengan mengonsumsi kurma basah, tubuh bisa mendapat manfaat dari kandungan air dan gula tersebut.
“Dengan mengonsumsi kurma itu kita dapat dua manfaat sekaligus, airnya dapat, gulanya dapat. Dan itu langsung memberikan energi pada tubuh kita,” jelas dr. Zaidul.
Selain itu, dr. Zaidul mengungkapkan berbuka puasa dengan kurma dan air putih sangat dianjurkan ketimbang langsung mengonsumsi makanan berat.
Untuk itu, bila tidak ada kurma, dr. Zaidul menganjurkan untuk mengonsumsi buah-buahan lainnya yang tinggi kandungan air dan gula. Buah-buahan tersebut dapat memberikan energi tambahan pada tubuh setelah belasan jam menahan lapar dan haus.
“Karena tubuh kita sekian lama tidak menerima makanan, maka jangan makan asupan yang berat dicerna. Maka urutannya seperti kurma, air putih, agar tubuh kita beradaptasi,” jelas dr. Zaidul.
“Kalau tidak ada kurma, maka carilah buah-buahan yang tinggi gula dan air, seperti nanas dan anggur,” tambahnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)