Mitos atau Fakta: Transplantasi Ginjal Hanya Bisa Dilakukan oleh Keluarga

Mei Sada Sirait, Jurnalis
Selasa 17 Februari 2026 11:54 WIB
Mitos atau Fakta: Transplantasi Ginjal Hanya Bisa Dilakukan oleh Keluarga (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA - Transplantasi ginjal menjadi tindakan yang disarankan bagi penderita gagal ginjal. Namun, langkah ini biasanya terkendala oleh minimnya donor ginjal di Indonesia sehingga masyarakat lebih memilih tindakan dialisis (cuci darah).

Minimnya donor ginjal di Indonesia juga diwarnai berbagai mitos yang beredar di masyarakat. Salah satu mitos yang paling sering dibahas adalah bahwa pendonor ginjal harus memiliki golongan darah yang sama atau berasal dari keluarga inti.

Namun, ternyata dunia medis menggunakan prinsip kecocokan, bukan kesamaan mutlak. Hal itu dijelaskan oleh Dokter Spesialis Urologi, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, saat acara Clinical Milestone: Paparan Perjalanan 500 Kidney Transplant di Siloam ASRI pada Sabtu (14/2/2026).

“Golongan darah itu tidak harus sama, yang penting compatible. Prinsipnya seperti transfusi darah,” jelas dr. Nur Rasyid.

Sebagai contoh, golongan darah O dapat mendonorkan kepada berbagai golongan darah lain, sementara golongan darah AB dapat menerima dari banyak golongan darah. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa cross-match untuk memastikan tidak ada antibodi dalam tubuh penerima yang dapat menyerang ginjal donor.

“Cross-match itu menentukan apakah ada antibodi terhadap ginjal donor. Kalau tidak ada, itu yang paling penting,” tambahnya.

Terkait persyaratan donor ginjal, umumnya berada pada rentang usia 20 hingga 65 tahun, bahkan dalam kondisi tertentu bisa sampai usia 70 tahun. Sementara itu, untuk usia di bawah 20 tahun tidak diperbolehkan karena adanya pertimbangan hukum.

“Itu lebih ke legalitas. Dia belum punya hak penuh menentukan keputusan medisnya sendiri,” jelasnya.

Donor hidup sendiri terbukti aman. Ginjal yang tersisa di tubuh pendonor akan menyesuaikan diri dan mengambil alih fungsi ginjal yang didonasikan sehingga pendonor dapat kembali hidup normal tanpa memerlukan obat khusus.

“Setelah beberapa waktu, fungsi ginjal yang tersisa hampir setara dengan dua ginjal,” pungkas dr. Nur Rasyid.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya