JAKARTA - Saat Tahun Baru Imlek, buah jeruk hampir selalu hadir di rumah-rumah. Mulai dari jeruk mandarin, jeruk keprok, hingga kumquat, semuanya jadi simbol keberuntungan. Tapi, kenapa jeruk begitu identik dengan Imlek?
Tradisi membawa jeruk saat Imlek berakar dari simbolisme, kepercayaan budaya, dan permainan kata dalam bahasa Tionghoa. Dalam bahasa Mandarin dan Kanton, kata untuk jeruk terdengar mirip dengan kata yang berarti “kesuksesan” atau “kemakmuran”. Karena itulah, memberi dan menerima jeruk dipercaya sebagai doa untuk rezeki dan keberhasilan di tahun yang baru.
Penggunaan jeruk dalam ritual sudah ada sejak masa Dinasti Han. Saat itu, buah-buahan tertentu dijadikan persembahan untuk leluhur karena dianggap membawa keberuntungan.
Jeruk yang banyak tumbuh di Tiongkok selatan seperti Guangdong dan Fujian juga dikaitkan dengan kesehatan dan umur panjang. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, kulit jeruk bahkan digunakan untuk membantu pencernaan.
Seiring waktu, terutama pada masa Dinasti Tang dan Dinasti Song, jeruk mulai sering dipajang saat festival musim dingin sebagai simbol kelimpahan. Tradisi ini makin kuat pada masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing, hingga akhirnya menjadi bagian penting dalam perayaan Imlek.
Warna oranye keemasan pada jeruk juga dipercaya melambangkan emas dan menarik energi positif (qi) ke dalam rumah.
Makna dari Permainan Kata