DALAM menjalani kehidupan sehari-hari, seorang individu dihadapkan pada berbagai peran dan tuntutan. Tidak jarang, tuntutan tersebut cukup berat dan beragam sehingga individu merasakan tekanan yang berlebih dan membuatnya sulit untuk dapat mengatasi permasalahannya.
Kondisi tersebut dapat dikatakan sebagai stres, yang merupakan sebuah keadaan pada saat individu menyadari bahwa terdapat kesenjangan antara sumber daya yang dimilikinya, baik berupa faktor biologis maupun psikologis, dengan tuntutan dari lingkungan, yang dapat membahayakan kesejahteraannya (Lazarus & Folkman, 1984). Dalam hal ini, ketika masalah yang dihadapi tidak diimbangi oleh sumber daya yang tersedia, maka akan menyebabkan stres.
Terdapat beragam sumber stres yang dapat membuat individu sulit untuk menjalankan aktivitas sehari-hari dengan optimal, misalnya saja lingkungan fisik. Kebisingan, macet, cuaca yang tidak menentu, hingga transportasi umum yang padat dapat membuat individu mengalami stres. Pada saat bekerja, tuntutan yang tinggi di kantor, pekerjaan yang banyak, maupun atasan serta rekan kerja yang tidak suportif dapat pula berdampak pada tingkat stres yang dialami oleh individu.
Dalam konteks pribadi, tuntutan memiliki penghasilan yang layak untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, kondisi kesehatan yang buruk, hingga masalah dalam keluarga juga dapat menyumbangkan permasalahan yang memicu stres. Tidak hanya itu, relasi yang kurang baik dengan orang-orang di sekitar, seperti dengan pasangan, orang tua, anak, rekan kerja, maupun tetangga, dapat pula menjadi sumber stres.
Ketika stres hadir, tubuh dan pikiran memberikan reaksi. Gejala yang ditampilkan dapat berupa gejala fisik, seperti ketegangan otot, hipertensi, hingga adanya masalah pencernaan. Selain itu, seorang individu yang mengalami stres juga dapat merasakan kecemasan, adanya peningkatan kemarahan, termasuk pula gejala depresi.