JAKARTA – Apa itu virus superflu yang gejalanya lebih parah dari Covid-19? Amerika Serikat tengah menghadapi lonjakan besar kasus flu pada musim dingin tahun ini. Banyak di antaranya dikaitkan dengan varian virus influenza A H3N2 yang dikenal sebagai subklade K, yang oleh sebagian kalangan dijuluki sebagai “superflu”.
Lonjakan kasus flu ini terjadi bersamaan dengan merebaknya penyakit lain seperti COVID-19, batuk rejan, dan penyakit pernapasan musiman, sehingga memberi tekanan tambahan pada sistem layanan kesehatan. Situasi ini juga muncul di tengah kekhawatiran publik terkait kebijakan vaksinasi, terutama untuk anak-anak.
Berdasarkan data terbaru Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), hingga musim flu berjalan saat ini tercatat sedikitnya 7,5 juta kasus flu, dengan 81.000 rawat inap dan 3.100 kematian.
Mayoritas kasus tersebut dikaitkan dengan subklade K, varian dari H3N2 yang diketahui menyebar sangat cepat. Meski begitu, CDC menyebut tingkat keparahan penyakit secara umum masih tergolong rendah, namun aktivitas influenza diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Lonjakan flu terjadi hampir di seluruh wilayah Amerika Serikat. Negara bagian New York mencatat jumlah kasus flu positif mingguan tertinggi sepanjang sejarah pada pekan yang berakhir 20 Desember. Connecticut juga melaporkan peningkatan kasus ke level tertinggi yang pernah diamati para dokter.
Sementara itu, California mengalami peningkatan signifikan di berbagai wilayah. Pejabat kesehatan setempat menyebut musim flu tahun ini berpotensi lebih buruk dibanding tahun sebelumnya.
Secara global, sejumlah negara Eropa seperti Inggris dan Irlandia juga melaporkan rekor kasus flu. Beberapa rumah sakit bahkan kembali menerapkan penggunaan masker demi menekan laju penularan, mengingat tekanan besar pada fasilitas kesehatan.