Para ahli menegaskan, istilah “superflu” bukan istilah medis resmi. Sebutan ini biasanya muncul saat suatu strain flu menyebar luas atau menyebabkan lonjakan kasus yang tidak biasa, demikian dilansir dari Axios.
Menurut pakar penyakit menular dari Universitas Johns Hopkins, Amesh Adalja, subklade K disebut “superflu” karena populasi memiliki kekebalan yang relatif rendah terhadap varian ini dan perlindungan vaksin tidak sepenuhnya spesifik. Meski demikian, tidak ada bukti bahwa strain ini menyebabkan penyakit yang lebih parah dibanding flu lainnya.
Meski vaksin flu musim ini tidak secara khusus menargetkan subklade K, para ahli menyebut vaksin tetap memberikan perlindungan penting, terutama untuk mencegah penyakit berat dan rawat inap. Data dari otoritas kesehatan Inggris juga menunjukkan vaksin masih memiliki efektivitas terhadap H3N2.
Ahli virologi Andrew Pekosz menekankan bahwa peningkatan kasus lebih disebabkan oleh cepatnya penyebaran virus, bukan karena tingkat keparahan yang jauh lebih tinggi.
Gejala flu akibat H3N2 klade K umumnya sama dengan flu biasa, seperti demam, batuk, pilek, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, serta menggigil. Flu biasanya muncul secara tiba-tiba dalam dua hingga tiga hari setelah terpapar virus.
Para ahli tetap merekomendasikan vaksinasi flu, terutama bagi kelompok rentan. Vaksin membutuhkan waktu sekitar 10–14 hari untuk membentuk respons imun dan membantu mengurangi risiko infeksi berat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)