Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jangan Sepelekan Batuk saat Karhutla, Bisa Jadi Tanda Gangguan Pernapasan

Djanti Virantika , Jurnalis-Kamis, 22 Oktober 2026 |19:05 WIB
Jangan Sepelekan Batuk saat Karhutla, Bisa Jadi Tanda Gangguan Pernapasan
Karhutla. (Foto: BNPB)
A
A
A

PAPARAN asap dan polusi udara tidak boleh dianggap sepele, meskipun tubuh belum menunjukkan gejala yang terasa mengganggu. Orang dewasa kerap mengabaikan batuk atau napas yang mulai terasa berat karena menganggapnya sebagai keluhan biasa.

Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan pada saluran pernapasan yang perlu diperiksa. Masyarakat pun diingatkan agar tidak menunggu sampai kondisi memburuk sebelum mencari pertolongan medis.

Orang dewasa terkadang baru memeriksakan diri ketika gejala sudah cukup parah. Kebiasaan menganggap batuk sebagai keluhan ringan dapat membuat seseorang terlambat menyadari adanya masalah kesehatan.

1. Orang Dewasa Kerap Anggap Batuk Keluhan Biasa

Dokter spesialis paru dan pernapasan (pulmonolog) yang aktif berpraktik di Kalimantan Tengah, dr. Itna Warnida, Sp.P, FISRD, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone menjelaskan bahwa pasien anak-anak yang dirawat di rumah sakit akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat lebih terlihat dibandingkan kelompok dewasa. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti orang dewasa lebih aman dari dampak polusi udara.

Sebagian orang dewasa mungkin tetap beraktivitas meskipun mengalami batuk atau keluhan pernapasan lainnya. Karena gejala belum dirasakan mengganggu, mereka cenderung menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

Kebiasaan meremehkan gejala seperti ini perlu diwaspadai. Batuk memang tidak selalu menandakan penyakit serius, tetapi batuk yang menetap atau disertai perubahan pola pernapasan tidak sebaiknya diabaikan.

“Sering kali, kita tidak menyadari adanya peringatan dari tubuh sehingga merasa tidak perlu melakukan apa-apa. Hal yang perlu kita pahami adalah ketika mulai mengalami sesak napas, kita tidak boleh menganggapnya sebagai kondisi yang biasa. Bahkan, batuk pada orang dewasa pun terkadang dianggap sepele,” ujar dr. Itna.

“Batuk dianggap biasa sehingga masyarakat tidak menyadari bahwa paparan yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan,” lanjutnya.

2. Apa Itu PM2.5 dan Mengapa Berbahaya bagi Pernapasan?

PM2.5 merupakan partikel halus di udara yang berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk asap kendaraan, aktivitas industri, pembakaran sampah, serta kebakaran hutan dan lahan.

Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru. Paparan partikel tersebut dapat memicu iritasi dan memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada orang yang memiliki penyakit paru-paru atau kondisi kesehatan tertentu.

Dampak paparan polusi udara dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada konsentrasi polutan, lamanya paparan, dan kondisi kesehatan individu. Keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, iritasi tenggorokan, mengi, napas terasa berat, hingga memburuknya gejala asma.

Oleh karena itu, seseorang tidak sebaiknya menjadikan ketiadaan gejala berat sebagai alasan untuk mengabaikan kualitas udara yang buruk.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement