Dua kondisi yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yaitu penyakit hati berlemak yang berkaitan dengan gangguan metabolisme, dan sirosis, yakni kondisi ketika jaringan hati mengalami kerusakan serta pembentukan jaringan parut.
Meski begitu, temuan ini tidak berarti setiap orang yang makan pada malam hari pasti mengalami penyakit hati. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pola makan larut malam dan risiko penyakit, bukan membuktikan bahwa kebiasaan tersebut secara langsung menjadi penyebabnya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian para peneliti adalah ritme sirkadian, yaitu jam biologis alami tubuh yang mengatur berbagai proses, termasuk siklus tidur dan bangun. Hati juga mengikuti ritme tersebut dalam menjalankan fungsi metabolisme, termasuk mengolah zat gizi yang masuk ke tubuh.
Robert Wilechansky, dokter spesialis hati sekaligus penulis utama penelitian dari OHSU, menjelaskan bahwa hati sangat berkaitan dengan ritme sirkadian tubuh. Karena itu, perubahan waktu makan berpotensi memengaruhi kesehatan tanpa harus selalu mengubah jenis makanan yang dikonsumsi.
Sementara itu, Andrew McHill, salah satu penulis penelitian yang mempelajari ritme sirkadian dan tidur, menjelaskan bahwa tubuh cenderung tidak mengolah makanan seefisien biasanya ketika seseorang makan pada malam hari, saat jam biologis tubuh sedang mempersiapkan diri untuk tidur.
Jika pola ini berlangsung dalam jangka panjang, gangguan metabolisme dapat berkaitan dengan masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan gangguan kesehatan hati.