Masalah lain yang mungkin muncul adalah refluks asam. Berbaring tidak lama setelah makan dapat meningkatkan kemungkinan munculnya gejala seperti asam lambung naik dan regurgitasi.
Bukan berarti seseorang sama sekali tidak boleh mengonsumsi makanan menjelang tidur. Kondisi setiap orang berbeda dan kebutuhan makan juga dipengaruhi keadaan kesehatan masing-masing.
Ellen Stein, MD, profesor madya kedokteran dan penjabat direktur klinis gastroenterologi di Rutgers Robert Wood Johnson Medical School, menyarankan adanya jeda setidaknya dua jam antara makan terakhir dan waktu tidur. Menurutnya, tiga jam akan lebih ideal.
Namun, bagi orang yang benar-benar lapar pada malam hari, camilan kecil masih dapat menjadi pilihan. Terutama bagi mereka yang memiliki kondisi tertentu dan membutuhkan tambahan asupan untuk mencegah gula darah terlalu rendah atau membantu mempertahankan berat badan.
Sebaliknya, makan camilan tinggi gula atau lemak menjelang tidur sebaiknya dihindari karena berpotensi mengganggu kualitas tidur.
Agar tidak mudah lapar menjelang tidur, pola makan sepanjang hari juga perlu diperhatikan. Salah satu masalah yang kerap terjadi adalah seseorang tidak cukup makan pada pagi atau siang hari sehingga baru mengonsumsi banyak makanan pada malam hari.
Komposisi makan malam juga berperan. Camilan atau makanan terakhir sebaiknya tidak terlalu berat dan dapat terdiri dari kombinasi protein, lemak sehat, serta serat. Komposisi tersebut membantu memberikan rasa kenyang sekaligus mendukung kestabilan gula darah.
Jika selama ini terbiasa makan tepat sebelum tidur, perubahan pola makan tidak harus dilakukan secara drastis.