Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kasus Influenza A pada Anak Meningkat, Kapan Harus Dibawa ke Rumah Sakit?

Djanti Virantika , Jurnalis-Kamis, 17 September 2026 |16:05 WIB
Kasus Influenza A pada Anak Meningkat, Kapan Harus Dibawa ke Rumah Sakit?
Anak flu. (Foto: Freepik)
A
A
A

3. Anak Tidak Mau Minum Bisa Mengalami Dehidrasi

Ilustrasi cegah Influenza A. (Foto: dok Magnific)

Selain pernapasan, dr. Yogi juga ingatkan orangtua untuk memastikan anak mendapatkan cukup cairan saat terkena influenza A. Influenza dapat disertai keluhan seperti tidak nafsu makan, tidak mau minum, muntah, atau diare. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko dehidrasi.

Salah satu hal yang mudah dipantau di rumah adalah frekuensi buang air kecil. Jika anak yang biasanya sering buang air kecil tiba-tiba jarang buang air kecil, popoknya tetap kering selama beberapa jam, atau urine terlihat lebih pekat, orang tua perlu mewaspadai dehidrasi. Jika muncul tanda dehidrasi, anak sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.

Perjalanan demam juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Jika demam berlangsung lebih dari tiga hari, orang tua perlu mempertimbangkan pemeriksaan medis, terutama jika kondisi anak justru memburuk.

Demam yang mulai turun tetapi anak tampak semakin lemas juga perlu diwaspadai. Begitu pula apabila demam sempat membaik kemudian kembali tinggi.

Hal tersebut penting karena tidak semua demam pada anak disebabkan oleh influenza. Di Indonesia, terdapat berbagai penyakit infeksi lain yang juga dapat menyebabkan demam, termasuk infeksi seperti dengue. Karena itu, perubahan pola demam perlu diperhatikan dan tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai bagian dari influenza.

“Kemudian tadi, kadang-kadang anak enggak mau makan minum atau ada gejala saluran cemak, seperti muntah atau diare, sehingga tanda-tanda dehidrasi itu penting. Salah satu yang paling objektif adalah buang air kecil. Jadi anak kecil kan biasanya buang air kecilnya sering ya,” tutur dr. Yogi.

“Nah kalau udah lebih dari 4 jam kok pempersnya kering, pun pada saat kita cek ada tapi warnanya pekat, maka ini sudah dehidrasi nih. Ini harus segera dibawa ke rumah sakit. Dan juga pola demam. Ingat Indonesia ini memang banyak penyakit tropical infection kita bilangnya ya,” sambungnya.

“Kan bukan cuma influenza. Ada penyakit lain seperti Dengue gitu. Sehingga kalau demamnya sudah lebih dari 3 hari, kemudian demamnya turun tapi malah tampak lemas atau demamnya sempat perbaikan, setelah itu mulai demam tinggi lagi, maka sebaiknya kita segera bawa ke rumah sakit,” jelasnya.

4. Bayi dan Anak dengan Penyakit Tertentu Perlu Lebih Waspada

dr. Yogi mengatakan kelompok usia dan kondisi kesehatan tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi. Bayi, terutama yang berusia di bawah enam bulan dan khususnya bayi di bawah tiga bulan, perlu mendapatkan perhatian lebih ketika mengalami gejala infeksi.

Anak dengan gangguan sistem imun juga perlu segera diperiksakan. Contohnya adalah anak dengan HIV atau anak yang mendapatkan pengobatan steroid dalam jangka panjang. Anak dengan penyakit jantung bawaan juga termasuk kelompok yang membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi.

Selain itu, apabila anak diketahui memiliki kontak erat dengan anggota keluarga yang mengalami influenza A, orang tua perlu melakukan pemantauan lebih ketat terhadap munculnya gejala.

“Kalau anak dengan risiko dengan gangguan sistem imun, Misalnya anak-anak dengan HIV, anak-anak yang mendapat pengobatan steroid jangka panjang, anak-anak dengan penyakit jantung bawaan, maka itu harus segera dibawa ke rumah sakit ya,” tutur dr. Yogi.

“Karena pada prinsipnya, karena ini adalah penyakit self-limiting, maka yang penting tuh istirahat, hidrasinya cukup, kemudian obat-obatan untuk menyamankan,” lanjutnya.

“Dan tadi ada kelompok usia tertentu seperti bayi, terutama bayi-bayi di bawah 6 bulan, bahkan di bawah 3 bulan, atau lansia. Maka kita harus segera periksakan. Apalagi kalau sudah jelas terpapar dengan anggota rumah yang mengalami influenza A. Jadi kuncinya yang kita pantau itu napasnya, asupannya, kesadarannya, sama buang air kecilnya,” jelasnya.

Perawatan di rumah pada dasarnya berfokus pada istirahat yang cukup, menjaga asupan cairan, serta memberikan obat-obatan untuk membantu meredakan gejala sesuai anjuran tenaga kesehatan. Namun, orang tua tetap harus memperhatikan tanda-tanda bahaya. Kondisi anak dapat memburuk sehingga membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis segera.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement