Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Langkah Penting Lindungi Anak dari Debu Vulkanik, Masker Bukan Satu-satunya

Djanti Virantika , Jurnalis-Minggu, 13 September 2026 |14:05 WIB
Langkah Penting Lindungi Anak dari Debu Vulkanik, Masker Bukan Satu-satunya
Masker untuk anak. (Foto: Freepik)
A
A
A

DEBU vulkanik dapat menjadi ancaman bagi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan, seperti balita dan anak-anak. Partikel debu yang terhirup dapat mengganggu saluran pernapasan, terlebih pada anak yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Selain balita, kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih meliputi lansia serta orang dengan penyakit penyerta, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), gangguan pernapasan kronis, dan penyakit kardiovaskular.

Dalam kondisi paparan debu vulkanik, ada sejumlah langkah paling penting yang perlu dilakukan orangtua adalah mengurangi dan menghindarkan anak dari paparan sebanyak mungkin. Apa saja?

1. Jangan Hanya Mengandalkan Masker

Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) RS Siloam TB Simatupang, dr. Henie Widowati, SpP, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan bahwa masker dapat menjadi salah satu perlindungan tambahan dari paparan partikel debu terhadap anak. Namun, penggunaan masker pada anak-anak memiliki tantangan tersendiri.

Tidak semua masker memiliki ukuran yang sesuai untuk wajah anak. Selain itu, masker dengan tingkat filtrasi tinggi dapat membuat bernapas terasa lebih berat sehingga anak mungkin merasa tidak nyaman atau bahkan menolak menggunakannya.

Untuk paparan partikel seperti debu vulkanik, masker dengan kemampuan filtrasi tinggi seperti N95, KN95, atau KF94 dapat menjadi pilihan apabila tersedia dalam ukuran yang sesuai dan anak mampu menggunakannya dengan nyaman.

Namun, bagi balita, perlindungan tidak seharusnya hanya bergantung pada masker. Menjauhkan anak dari sumber debu tetap menjadi langkah utama.

“Harus diperhatikan juga bahwa anak-anak termasuk kelompok orang dengan kelompok sensitif, rentan. Balita, lansia, orang-orang dengan komorbit seperti masalah pernapasan kronik, asma, PPOK, penyakit kardiovaskuler, jantung, itu memang diselamatkan dahulu ya,” ujar dr. Henie.

“Jadi didingat bahwa yang utama hindari pajanan, jauhkan dulu. Memang kalau pada anak-anak kita memang enggak mudah mendapatkan masker yang cocok. Apalagi daam kondisi debu gini, debu vulkanik begini kita sarankan yang filtrasinya 94% ke atas ya. Enggak semuanya ada ukuran untuk anak-anak dan itu karena filternya sangat rapat dia yang namanya N95 itu akan memfiltrasi partikel sampai 90% ya itu akan membuat napasnya kayak jadi lebih enggak enak lebih terbatas,” lanjutnya.

“Apalagi anak-anak dia biasanya tidak mau memakai. Makanya yang dipikirkan jangan anak-anak pakai masker tapi jauhkan dari pajanan debunya,” jelas dr. Henie.

2. Bawa Anak ke Ruangan yang Aman

Ketika debu vulkanik mulai mencemari lingkungan, orangtua sebaiknya membawa anak masuk ke rumah dan menempatkannya di ruangan yang minim paparan udara luar. Ruangan tersebut sebaiknya tertutup dan berada jauh dari pintu keluar-masuk. Pintu dan jendela juga perlu diminimalkan penggunaannya agar debu dari luar tidak mudah masuk.

Orangtua dapat membuat satu ruangan sebagai area yang relatif bersih atau clean room bagi anak. Tujuannya adalah menjaga agar konsentrasi debu di dalam ruangan serendah mungkin.

“Saat anak-anak sudah di rumah tempatkan di area ruangan yang save room yang clear room. Nah itu tempatnya tertutup terus jauh dari pintu keluarnya. Juga enggak boleh sering-sering buka pintu,” ucap dr. Henie.

 

3. Perhatikan Penggunaan AC dan Kipas Angin

Kolektor Kipas Angin, Anak Tasya Kamila bahkan Jawab Keluhan Kerusakan Kipas Milik Netizen

Penggunaan AC juga perlu diperhatikan saat terjadi paparan debu vulkanik. Jika menggunakan pendingin ruangan, pastikan sistem tersebut tidak memasukkan udara luar secara langsung ke dalam ruangan.

Sistem yang menggunakan sirkulasi udara dari dalam ruangan lebih sesuai untuk menjaga ruangan tetap tertutup dari udara luar yang berpotensi membawa debu. Filter AC juga perlu diperhatikan agar tidak menjadi tempat menumpuknya debu.

Kipas angin juga perlu digunakan secara hati-hati. Debu vulkanik yang telah mengendap di lantai atau berbagai permukaan rumah dapat kembali beterbangan ketika terkena embusan kipas. Partikel tersebut kemudian berpotensi terhirup oleh anak.

Karena itu, ketika kondisi rumah masih memiliki banyak debu, penggunaan kipas angin sebaiknya dipertimbangkan dengan hati-hati. Debu yang sudah masuk ke dalam rumah sebaiknya dibersihkan secara hati-hati agar tidak kembali beterbangan.

Hindari menyapu kering karena gerakan tersebut dapat mengangkat partikel debu ke udara. Pembersihan dengan metode basah dapat membantu mengurangi debu yang beterbangan. Orang tua juga sebaiknya memastikan anak tidak berada di area yang sedang dibersihkan.

“Kalau ada AC boleh, tapi kalau AC ini harus diingat AC yang memakai udara dari dalam bukan yang mengambil udara dari luar,” jelas dr. Henie.

“Terus juga kipas angin juga jangan sembarangan pakai. Karena kalau kipas angin dipakai dia akan pertama narik udara dari luar. Kedua, debu-debu yang tadi sudah turun di bawah dia akan terbang lagi dengan kipas angin,” tutupnya.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement