Karies gigi menjadi temuan kesehatan tertinggi secara nasional dengan angka 40,9 persen. Selain itu, ditemukan pula kasus anemia pada remaja putri, peningkatan tekanan darah, serta serumen impaksi atau penumpukan kotoran telinga.
Sementara itu, di Kota Bogor, prevalensi gigi berlubang pada siswa tercatat mencapai 48,79 persen. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Erna Nuraena mengatakan cakupan pelaksanaan CKG di wilayahnya telah mencapai 49,62 persen melalui inovasi jemput bola bernama "CKG Smart".
"Di Bogor angka karies mencapai 48,79 persen. Untuk merespons temuan ini dan tantangan akses, kami menginisiasi inovasi CKG Smart yang mobile dan responsif untuk memberikan terapi awal terintegrasi langsung ke sekolah-sekolah," kata Erna.
Selain masalah kesehatan gigi, anak-anak Indonesia juga masih menghadapi beban ganda masalah gizi. Di satu sisi, kasus gizi kurang masih ditemukan. Di sisi lain, prevalensi gizi lebih atau obesitas pada anak sekolah secara nasional mencapai 7,2 persen.
Untuk menangani berbagai temuan tersebut, Kemenkes mengintegrasikan CKG dengan target intervensi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Program tersebut mencakup empat sasaran yang saling berkaitan, yakni kesehatan sebelum kehamilan bagi remaja putri dan calon pengantin, kesehatan selama kehamilan hingga bayi lahir, kesehatan bayi di bawah dua tahun (baduta), serta penguatan fasilitas pelayanan kesehatan.