JAKARTA - Di antara penggunaan ponsel, laptop, dan kebiasaan scrolling tanpa henti, pastinya setiap orang bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar. Sebagian orang mungkin sudah tahu bahwa kebiasaan ini bisa membuat mata lelah dan memengaruhi postur tubuh. Tapi, apakah layar juga bisa berdampak pada kulit?
Ada anggapan bahwa cahaya dari layar dapat menyebabkan kerutan, kulit kusam, dan munculnya bintik hitam. Namun, apakah hal ini benar atau hanya kekhawatiran yang berlebihan? Yuk, cari tahu.
Melansir The Times of India, penelitian klinis menunjukkan bahwa penggunaan layar digital dapat memberikan dampak pada kulit. Risiko utamanya berkaitan dengan seberapa dekat layar dengan wajah dan berapa lama menggunakannya.
Jika kamu memegang layar hanya beberapa sentimeter dari wajah selama 6–8 jam sehari, kulit bisa mengalami stres oksidatif tingkat rendah secara terus-menerus.
Perangkat digital memancarkan cahaya biru yang secara ilmiah dikenal sebagai High-Energy Visible (HEV) Light. Berbeda dengan sinar ultraviolet (UV) yang terutama memengaruhi lapisan permukaan kulit, cahaya biru memiliki panjang gelombang sekitar 380–500 nanometer sehingga dapat menembus lebih dalam hingga mencapai lapisan dermis kulit.
Ketika cahaya biru masuk ke jaringan kulit, cahaya ini dapat menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS) atau spesies oksigen reaktif. Kondisi tersebut memicu stres oksidatif dan mengaktifkan enzim seperti matrix metalloproteinase-1 (MMP-1).
Enzim ini dapat memecah serat kolagen dan elastin pada kulit sekaligus memperlambat pembentukan kolagen baru. Kerusakan struktur tersebut dapat menyebabkan tanda-tanda penuaan muncul lebih cepat, seperti garis halus, kerutan, dan berkurangnya elastisitas kulit.