Kalau kamu mengalami hiperpigmentasi atau melasma yang sulit diatasi, cahaya biru bisa menjadi salah satu pemicunya.
Cahaya tampak dapat mengaktifkan reseptor khusus pada sel penghasil pigmen yang disebut opsin-3. Reseptor ini mengenali cahaya biru-keunguan dan kemudian memberi sinyal kepada kulit untuk memproduksi melanin, bahkan tanpa paparan sinar UV.
Pigmentasi akibat cahaya biru terutama berpotensi memengaruhi orang dengan kadar melanin kulit yang lebih tinggi, yaitu tipe kulit Fitzpatrick III–VI. Sementara itu, efek tersebut kemungkinan lebih kecil terjadi pada orang dengan kulit sangat terang atau tipe I dan II.
Selain berpotensi memengaruhi kulit secara langsung, cahaya biru juga dapat mengganggu ritme sirkadian dengan menghambat pelepasan melatonin, yaitu hormon yang berperan dalam mengatur tidur.
Kurang tidur dapat mengganggu proses pemulihan alami kulit yang berlangsung pada malam hari. Akibatnya, berbagai tanda penuaan bisa terlihat semakin jelas dan kulit dapat tampak kusam, lelah, serta mengalami dehidrasi.
Kebiasaan menundukkan kepala berulang kali saat melihat layar ponsel dapat memberikan tekanan pada kulit leher.
Kulit leher jauh lebih tipis dan memiliki lebih sedikit kelenjar minyak dibandingkan kulit wajah. Ketika kepala terus berada dalam posisi menunduk, tekanan mekanis pada jaringan kulit yang lebih rapuh tersebut membuat kulit terlipat pada garis yang sama selama berjam-jam.