Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Agar Anak Tetap Nyaman, Ini 5 Hal yang Tak Boleh Dibiarkan saat Kumpul Keluarga

Agustina Wulandari , Jurnalis-Senin, 17 Agustus 2026 |08:05 WIB
Agar Anak Tetap Nyaman, Ini 5 Hal yang Tak Boleh Dibiarkan saat Kumpul Keluarga
Ilustrasi acara keluarga. (Foto: dok Magnific)
A
A
A

JAKARTA - Acara kumpul keluarga biasanya jadi momen yang menyenangkan. Anak bisa bertemu saudara, bermain dengan anak-anak lain, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang mungkin tak mereka temui setiap hari.

Namun, acara seperti ini juga bisa membuat anak berada dalam situasi yang tidak nyaman. Terkadang, orang dewasa melontarkan komentar atau candaan tanpa menyadari seberapa dalam perkataan tersebut dapat memengaruhi anak. Ada juga orang tua yang meminta anak mengabaikan rasa tidak nyaman hanya demi menjaga perasaan orang lain.

Sebagai orang tua, melindungi batasan emosional dan fisik anak bukan berarti mengajarkan mereka untuk bersikap kasar. Justru, hal ini mengajarkan anak bahwa perasaan mereka penting.

Melansir Times of India, berikut lima hal yang sebaiknya tidak dibiarkan orang lain lakukan kepada anak saat menghadiri acara bersama keluarga atau lingkungan sosial. 

1. Jangan Paksa Anak Memeluk atau Mencium Seseorang

Ketika seorang kerabat datang, mereka mungkin langsung meminta anak untuk memeluk atau mencium. Namun, anak bisa saja bersembunyi di belakang orang tua, menjauh, atau sekadar mengatakan tidak. Jangan memaksanya.

Anak seharusnya diberi kesempatan untuk menentukan apakah mereka ingin melakukan kontak fisik atau tidak. Sebagai gantinya, orang tua bisa menawarkan pilihan lain, seperti melambaikan tangan, mengucapkan salam, melakukan tos, atau fist bump. 

Orang tua juga bisa mengajarkan anak mengatakan, "Tidak, terima kasih," atau "Aku tidak mau dipeluk sekarang."

Hal ini mengajarkan satu hal penting kepada anak: tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka berhak menyampaikan ketika ada sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman.

2. Jangan Biarkan Orang Lain Memberi Label kepada Anak

Bagi orang dewasa, memberikan komentar mungkin terdengar sepele. Namun, anak bisa perlahan mulai mempercayai perkataan yang terus-menerus mereka dengar tentang dirinya sendiri.

Daripada membiarkan orang lain mendefinisikan anak, orang tua sebaiknya mengingatkan bahwa satu perilaku tidak menentukan siapa diri mereka sebenarnya.

Anak yang pendiam dalam satu acara belum tentu berarti dia "pemalu". Begitu juga anak yang tidak mau berbagi mainan tidak otomatis berarti "egois". Anak masih dalam proses belajar memahami dan mengungkapkan emosinya. 

Karena itu, orang tua bisa mengoreksi komentar seperti ini dengan lembut, daripada ikut tertawa atau membiarkannya begitu saja.

3. Jangan Membiarkan Anak Dibanding-bandingkan

Acara kumpul keluarga terkadang bisa berubah menjadi ajang membandingkan anak. Kondisi seperti ini mungkin dimaksudkan untuk memotivasi. Namun, membandingkan anak dengan orang lain justru bisa membuat mereka merasa tidak cukup baik.

Setiap anak berkembang dengan cara dan kecepatannya masing-masing. Jadi, daripada membandingkan anak dengan anak lain, lebih baik fokus pada perkembangan mereka sendiri. 

Jika ada orang yang membandingkan anak, orang tua cukup mengatakan, "Kami senang dengan perkembangan yang dia capai."

Anak perlu tahu bahwa kasih sayang dan penerimaan dari orang tua tidak bergantung pada apakah mereka lebih unggul daripada orang lain.

4. Jangan Biarkan Siapapun Menjadikan Anak sebagai Bahan Candaan

Orang dewasa terkadang menganggap ejekan sebagai "sekadar bercanda". Namun, jika semua orang tertawa sementara anak hanya diam, terlihat malu, atau merasa sedih, candaan tersebut mungkin tidak terasa lucu bagi mereka.

Komentar tentang penampilan, suara, berat badan, pakaian, prestasi di sekolah, kebiasaan, atau kepribadian anak bisa terus teringat bahkan setelah acara selesai. 

Anak masih dalam tahap membangun pemahaman tentang dirinya sendiri. Ejekan yang dilakukan berulang kali dapat memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri dan membuat mereka merasa tidak nyaman ketika berada di sekitar orang lain.

Jika sebuah candaan jelas membuat anak tidak nyaman, orang tua sebaiknya turun tangan. Tidak perlu sampai memicu pertengkaran. Kalimat sederhana seperti, "Jangan jadikan dia bahan candaan seperti itu," sudah cukup untuk menunjukkan bahwa orang tua berada di pihak anak.

5. Jangan Biarkan Orang Lain Membicarakan Keburukan Anak di Depan Umum

Kesalahan, nilai, perilaku, atau penampilan anak seharusnya tidak dijadikan bahan hiburan di depan banyak orang.

Mengatakan hal seperti, "Dia buruk sekali dalam matematika," atau "Dia tidak pernah mendengarkan saya," di depan anggota keluarga lain dapat membuat anak malu dan merusak kepercayaan mereka kepada orang tua.

Jika ada sesuatu yang perlu dibicarakan dengan anak, lakukan secara pribadi dan dengan tenang. Anak memang membutuhkan arahan, tetapi mereka juga membutuhkan penghargaan terhadap martabat dirinya. 

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement