MENJADI orang tua memang tidak selalu mudah. Banyak orang tua tanpa sadar mengulang pola pengasuhan yang pernah mereka terima saat kecil, seperti anggapan bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis, anak harus selalu kuat, atau emosi harus ditekan.
Lantas, bagaimana cara orang tua memutus rantai pola asuh tersebut? Apa saja hal-hal yang harus dilakukan orang tua?

Psikolog anak, Maria Ulfah, M.Psi, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone mengungkap langkah pertama yang perlu dilakukan untuk memutus pola asuh keras kepada anak. Dia menyadari bahwa menjadi orang tua merupakan proses belajar seumur hidup.
Karena itu, orang tua perlu secara aktif menambah pengetahuan mengenai pengasuhan, baik melalui seminar, kelas parenting, maupun berbagai sumber edukasi yang tersedia secara online dan offline. Hal tersebut penting agar pola asuh dapat terus menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Jadi memang sebagai orang tua itu kan enggak ada sekolahnya. Ketika kita menikah, mau menikah, itu enggak ada kelas khusus parenting gitu,” ujar Maria.
“Jadi memang dari orang tua, baik itu dari ayah maupun ibu, yang menambah ilmu pengetahuan itu sendiri dengan mengikuti seminar. Kan banyak sekarang ya, baik secara online maupun offline. Jadi memang kelas-kelas parenting itu harus dicari oleh orang tua itu sendiri sebagai bentuk mereka menyesuaikan dengan zamannya,” lanjutnya.
Dalam menerapkan pola asuh yang lebih sehat, orang tua terkadang merasa bingung. Ada yang akhirnya memilih diam atau mengikuti semua keinginan anak karena takut dianggap terlalu keras.
Namun, hal tersebut juga bukan solusi yang tepat. Maria menjelaskan bahwa anak tetap membutuhkan arahan dan batasan dari orang tua. Kuncinya adalah memberikan aturan secara tegas, tetapi disampaikan dengan alasan yang masuk akal dan dapat dipahami anak.
Maria pun turut berikan beberapa contoh. Misalnya, daripada mengatakan "Jangan pergi ke sana, nanti ada hantu." Lebih baik orang tua menjelaskan alasan sebenarnya, "Jangan bermain terlalu jauh karena jalan di sana ramai kendaraan, jadi bisa membahayakan kamu."
Dengan begitu, anak belajar memahami sebab dan akibat. Anak bukan sekadar merasa takut terhadap ancaman yang tidak nyata.
“Kadang-kadang gini, orang tua itu jadi ngerasa, terus harus gimana dong, yaudah deh diem aja deh, ikutin ajalah maunya anak. Itu juga enggak benar karena anak itu butuh diarahkan. Jadi sebenarnya kuncinya adalah tetap memberikan batasan secara tegas, tapi diselesai dengan alasan yang logis. Logis, konkret,” tutur Maria.
“Tidak lagi dengan, oke jangan ke sana, nanti ada hantu. Misalnya gitu kan, suka gitu-gitu. Disuntik dokter. Akhirnya anak takut sama dokter. Jadi sampaikan aja, enggak mungkin kan hal-hal yang tadi ditakuti oleh orang tua itu enggak mungkin terjadi. Jadi sampaikan aja apa yang menjadi hal-hal yang mendorong orang tua enggak memperbolehkan anak melakukan itu,” sambungnya.