Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sering Gagal Diet? Ternyata Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Pria

Niko Prayoga , Jurnalis-Kamis, 13 Agustus 2026 |16:05 WIB
Sering Gagal Diet? Ternyata Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Pria
Ilustrasi diet pada pria. (Foto; dok Magnific/KamranAydinov)
A
A
A

JAKARTA - Bagi kaum laki-laki pernahkah kalian merasa sangat berat dan susah untuk menjalani program diet dan memangkas porsi makanan harian? Jika pernah pastinya kamu bertanya “mengapa berat badan tidak turun padahal sudah diet?”. Yuk, bahas lebih lanjut buat tahu jawabannya!

Dokter sekaligus influencer kesehatan Gia Pratama dalam unggahan video di akun Instagramnya membeberkan alasan mengapa seorang laki-laki cenderung lebih susah untuk melakukan diet dibandingkan perempuan. Menurutnya, salah satu faktornya adalah porsi makanan yang kerap kali dianggap terlalu kecil. 

“Teman-teman, kenapa banyak laki-laki merasa diet itu sangat menyiksa? Padahal seringkali masalahnya bukan karena dietnya, tapi karena porsinya terlalu kecil untuk kebutuhan tubuhnya,” kata dr. Gia, dikutip Kamis (13/8/2026).

Ia menjelaskan, secara biologis laki-laki pada umumnya memiliki ukuran tubuh dan massa otot yang jauh lebih besar dibandingkan perempuan. Maka dari itu, energi yang dibutuhkan juga harus besar sehingga porsi makan yang kecil saat diet terasa menyiksa. 

“Sebagai gambaran praktis, pada program diet rendah kalori, wanita sering menggunakan batas sekitar 1.200 kalori per hari, sedangkan laki-laki sekitar 1.500 sampai 1.800 kalori per hari. Tentu tetap harus disesuaikan dengan berat badan, tinggi badan, usia, aktivitas, dan target masing-masing,” ujarnya.

Selain itu, porsi makan yang dibutuhkan juga berbeda. Perempuan rata-rata hanya memakan 500 sampai 600 kalori, sementara laki-laki bisa 700 sampai 800 kalori terutama bagi pria dengan ukuran tubuh yang besar dan aktivitas yang lebih tinggi. 

“Kalau porsinya dipukul rata, jangan heran kalau laki-laki akhirnya cepat lapar, lemas, sulit konsentrasi, kepikiran makanan terus, lalu malamnya malah bablas dendam makan,” kata dr. Gia. 

Itulah mengapa ia menyarankan agar dalam program diet baik laki-laki maupun perempuan bukan hanya melihat porsi banyak atau sedikit, tetapi juga melihat jumlah kalori yang dikonsumsi.

“Makanya diet yang efektif bukannya makan yang sesedikit mungkin. Yang kita cari adalah defisit kalori yang cukup untuk menurunkan lemak, tapi tetap memberikan energi dan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Protein juga harus cukup supaya massa otot tetap terjaga selama proses fat loss ini,” tuturnya. 

Dokter Gia mengingatkan, jika menggunakan diet katering, jangan hanya lihat tulisan "low kalori", tetapi juga lihat dari total kalorinya, proteinnya berapa, komposisi makro nutrisinya gimana.

“Dan yang paling penting: apakah porsinya memang sesuai dengan kebutuhan tubuh kita? Karena kebutuhan laki-laki dan perempuan sangat berbeda, bahkan dua orang laki-laki pun belum tentu membutuhkan jumlah kalori yang sama,” kata dr. Gia.

Ia menilai, diet yang baik bukan berarti harus kelaparan, melainkan bagaimana menjaga pola makan, khususnya defisit kalori dengan asupan gizi dan protein yang cukup dibarengi dengan sikap konsisten.

“Diet yang bagus bukan yang membuat kita kelaparan. Diet yang bagus adalah yang menciptakan defisit kalori, gizinya tetap cukup, dan bisa kita jalani secara konsisten,” ucapnya.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement