Seperti orang dewasa, anak juga memiliki sudut pandang dan emosi sendiri. Karena itu hargai perasaan mereka meskipun orangtua tidak sepenuhnya memahaminya. Dorong anak untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat. Jangan mengabaikan atau menganggap remeh kekhawatiran mereka.
Misalnya, ketika anak merasa sedih karena masalah dengan teman, hindari mengatakan, “Itu bukan masalah besar.” Sebaliknya, cobalah mengatakan, “Ayah/Ibu lihat masalah ini benar-benar membuat kamu terganggu. Kamu mau cerita?”

Kemampuan anak dalam mengekspresikan diri berkembang seiring bertambahnya usia. Karena itu, gunakan bahasa yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka agar pesan dapat dipahami dengan baik.
Anak yang lebih kecil mungkin membutuhkan penjelasan yang sederhana. Sementara itu, remaja biasanya dapat diajak berdiskusi mengenai hal-hal yang lebih kompleks dan mendalam.
Terakhir, komunikasi yang dilakukan secara rutin dapat mempererat hubungan seluruh anggota keluarga. Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan antara lain mengadakan pertemuan keluarga untuk membahas hal-hal penting.
Orangtua juga perlu melakukan percakapan mingguan dengan setiap anggota keluarga berbagi pengalaman terbaik dan terberat mereka. Lalu, gunakan jurnal bersama agar anggota keluarga dapat saling menuliskan pesan.
Kebiasaan tersebut menciptakan ruang yang teratur bagi seluruh anggota keluarga untuk berkomunikasi secara terbuka.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.