Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang menerima probiotik, secretome, maupun kombinasi probiotik dan secretome mengalami penurunan skor lesi inflamasi yang signifikan (p<0.05) dibandingkan kelompok yang hanya menerima terapi standar dengan placebo (p>0,05).
Penurunan skor inflamasi terbesar ditemukan pada kelompok kombinasi, yakni −7,38. Selanjutnya kelompok probiotik mengalami penurunan sebesar −7,06, sedangkan kelompok secretome sebesar −4,13.
Sementara itu, untuk skor total jerawat yang mencakup lesi inflamasi dan non-inflamasi, penurunan terbesar tercatat pada kelompok probiotik sebesar −9,25.
Penurunan berikutnya terdapat pada kelompok kombinasi sebesar −8,56 dan kelompok secretome sebesar −5,72.
Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si., Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran sekaligus Supervisor Research, mengatakan penelitian tersebut berangkat dari perkembangan ilmu pengetahuan mengenai hubungan kesehatan usus dan kesehatan kulit melalui gut–skin axis.
“Penelitian ini berangkat dari perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin menunjukkan adanya hubungan antara kesehatan usus dan kesehatan kulit melalui gut–skin axis. Kami ingin mengeksplorasi lebih jauh bagaimana pendekatan berbasis mikrobioma, termasuk penggunaan probiotik, berpotensi mendukung terapi jerawat yang telah ada,” kata Keri.
Keri menekankan bahwa hasil uji klinis tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses pengembangan bukti ilmiah yang masih berlangsung.
“Uji klinis ini memberikan landasan saintifikasi penggunaan probiotik sebagai terapi pendamping (adjuvant terapi) pada jerawat. Tentunya hasil penelitian ini perlu dilihat sebagai bagian dari proses pengembangan bukti ilmiah yang masih terus berkembang dan tetap membutuhkan penelitian lanjutan untuk memperkuat pemahaman mengenai mekanisme maupun manfaat klinisnya,” tambah Keri.