Kafein bekerja memblokir reseptor di otak yang bertugas memberi sinyal rasa lelah, sehingga tubuh tetap terasa bertenaga. Kendati demikian, teh memiliki karakter yang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan kopi.
“Kopi dan teh mengandung kafein. Kafein bekerja seperti orang yang menutup tombol rasa kantuk, akibatnya kita tetap merasa segar dan fokus. Tetapi teh punya keunikan, selain kafein, ada tanin yang membuat pikiran lebih tenang. Makanya, banyak orang merasa teh memberi fokus tanpa rasa terlalu berdebar,” kata dia.
Sensasi yang lebih lembut juga ditemukan pada cokelat. Buah olahan ini mengandung teobromin, senyawa yang memberikan efek relaksasi pada tubuh tanpa memicu penurunan energi secara mendadak atau biasa dikenal dengan istilah energy crash.
Berpindah ke meja makan dengan sajian bercita rasa pedas, fenomena tak kalah menarik terjadi saat kita mengkonsumsi cabai. Prof. Zulys mengungkapkan bahwa sensasi terbakar saat menyantap cabai sebenarnya bukanlah kerusakan fisik pada jaringan lidah, melainkan hasil stimulasi kimiawi semata.
“Cabai sebenarnya tidak membakar lidah kita. Senyawa kapsaisin ini hanya menipu otak, sehingga otak merasa seperti terkena panas. Karena itu pula, zat yang sama digunakan dalam koyo dan krim pereda nyeri,” papar Prof. Zulys.