JAKARTA - Bagi banyak orang, memulai hari dengan secangkir kopi hitam untuk memicu fokus, atau menyesap teh hangat di sore hari demi meredakan stres, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern. Tak jarang pula, kudapan coklat dijadikan penawar suasana hati yang buruk, sementara sajian pedas ber-cabai menjadi penambah selera makan yang bikin ketagihan.
Namun, pernahkah kamu membayangkan bahwa beragam efek menyegarkan, menenangkan, hingga sensasi terbakar di lidah tersebut sebenarnya berasal dari mekanisme pertahanan diri tanaman?
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Profesor Agustino Zulys dalam unggahan video di akun Instagramnya menjelaskan bahwa tanaman memiliki cara luar biasa dalam melindungi diri dari ancaman sekitar. Karena tidak memiliki kemampuan bergerak untuk melarikan diri saat diserang serangga atau predator, tanaman memproduksi senyawa kimia alami berparasit pahit dan beracun.
“Tanaman tidak bisa lari ketika diserang serangga. Mereka bertahan dengan cara yang luar biasa membuat senyawa kimia yang pahit dan beracun. Kelompok senyawa ini disebut alkaloid. Bagi tanaman, alkaloid adalah pestisida alami. Tetapi bagi manusia, dalam dosis kecil justru bisa mempengaruhi kerja otak,” ujar Prof. Zulys, dikutip Minggu (9/8/2026).
Interaksi antara senyawa alkaloid dan sistem saraf manusia inilah yang menciptakan respons bertahap serta unik pada tubuh tergantung pada jenis bahan pangan yang dikonsumsi. Pada minuman populer seperti kopi dan teh, misalnya, kandungan utamanya adalah kafein.