TREN penggunaan earphone kabel saat ini mulai marak kembali di kalangan Generasi Z (Gen Z). Selain karena kesan retro, aksesori ini kembali menjadi tren fashion anak muda.
Pasalnya, earphone kabel dianggap lebih praktis ketimbang True Wireless Stereo (TWS) atau earphone bluetooth yang harus diisi daya secara berkala. Apakah itu saja alasan di balik tren yang kembali ke masa lalu ini?

Kepindahan ini tidak melulu soal estetika. Praktisi Bisnis Lingkungan sekaligus konten kreator, Bang Sap, mengungkapkan lewat unggahan video di akun Instagram pribadinya bahwa pergeseran tren ini juga dipicu oleh ketakutan Gen Z terhadap isu radiasi bluetooth yang dinilai bisa mengganggu kesehatan.
“Gen Z ramai-ramai buang TWS. Katanya takut radiasi. Padahal bukan radiasinya loh yang paling berbahaya. Kita merasa begitu balik ke earphone kabel kita udah ambil keputusan yang paling sehat dan lebih bertanggung jawab kan?” kata Bang Sap, dikutip Sabtu (18/7/2026).
Padahal, jika menilik fakta medis, radiasi bluetooth sama sekali belum terbukti membahayakan manusia. Merujuk pada riset dari IPB University serta penjelasan World Health Organization (WHO), belum ditemukan bukti kuat terkait dampak buruk tersebut.
“Soal radiasinya, dokter dari IPB University menegaskan bluetooth memancarkan gelombang non-ionizing yang tidak terbukti merusak sel atau DNA. WHO dan CDC pun belum menemukan bukti kuat bahwa TWS berbahaya bagi kesehatan. Jadi ketakutan itu belum mendasar secara sains,” ucap dia.

Alih-alih radiasi, Bang Sap justru menyoroti ancaman nyata yang luput dari perhatian: lonjakan sampah elektronik (e-waste). TWS yang ditinggalkan begitu saja berpotensi menjadi bom waktu bagi lingkungan.
Apalagi, TWS dirancang sebagai perangkat yang sepenuhnya dilem rapat. Jika terjadi kerusakan komponen atau penurunan performa baterai, perangkat ini hampir mustahil diperbaiki dan akhirnya dibuang.
“TWS itu perangkat yang hampir seluruhnya dilem, enggak bisa dibuka. Dengan baterai lithium-ion mungil di dalamnya yang enggak bisa diganti. Begitu baterainya habis atau rusak, seluruh perangkatnya langsung dibuang, dan nyaris enggak ada fasilitas daur ulang yang siap menangkapnya,” ungkap Bang Sap.
Jika dibiarkan, fenomena ini akan memperpanjang daftar hitam masalah sampah elektronik di tanah air. Sebagai gambaran, pada 2023 lalu, sampah elektronik di Indonesia sudah menembus angka 2,1 juta ton dan diproyeksikan melonjak hingga 4,4 juta ton pada 2030 mendatang.
Ironisnya, kandungan kimia di dalam limbah elektronik ini jauh lebih beracun ketimbang gelombang radio yang ditakuti masyarakat.
“Terbesar di Asia Tenggara dan cuma 17 persen yang dikelola dengan benar. Sisanya dibakar atau dibuang. Padahal sampah elektronik tadi mengandung timbal dan merkuri yang justru terbukti jauh lebih berbahaya dibanding gelombang bluetooth,” tutur dia.
Oleh karena itu, Bang Sap menyarankan para pengguna TWS yang mulai beralih ke earphone kabel untuk tidak membuang perangkat lama mereka ke tempat sampah domestik.
“Jangan buang TWS lama ke tempat sampah biasa. Kumpulin satu wadah sekalian HP mati dan kabel rusak. Lalu antar ke dropbox e-waste terdekat. Dinas Lingkungan Hidup DKI udah nyediain titik di halte TransJakarta sampai stasiun KRL, bahkan ada jemput gratisnya,” beber Bang Sap.
“Jadi yang bikin keputusanmu bener atau enggak bukan ketakutan radiasi yang belum pasti, tapi juga kemana perginya TWS yang enggak mau kamu tinggalin. Percuma takut radiasi kalau yang lama malah numpuk di laci terus dibuang sembarangan,” pungkas dia.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.