
dr. Rosandi jelaskan kapan seseorang harus menjalani cuci darah. Cuci darah umumnya dilakukan ketika seseorang telah mengalami gagal ginjal kronis stadium akhir atau stadium 5.
Pada kondisi tersebut, fungsi ginjal sudah mengalami penurunan drastis, yakni berada di bawah 15 persen. Ketika kemampuan ginjal menyaring racun dan cairan tubuh sudah sangat rendah, diperlukan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis.
“Kalau misalnya tinggal 10 persen, tinggal 5 persen, itu terapi pengganti ginjal salah satunya cuci darah,” kata dr. Rosandi.
Cuci darah berfungsi membantu menggantikan sebagian tugas ginjal, seperti membuang zat sisa metabolisme dan kelebihan cairan dari dalam tubuh. Menurut dr. Rosandi, pasien yang sudah menjalani cuci darah akibat gagal ginjal stadium akhir umumnya perlu melakukan terapi tersebut dalam jangka panjang.
Namun, terdapat pilihan terapi definitif, yaitu transplantasi ginjal. Melalui prosedur ini, ginjal yang sudah mengalami kerusakan digantikan dengan ginjal yang lebih sehat sehingga pasien diharapkan tidak perlu terus bergantung pada cuci darah.
“Terapi definitif artinya transplant ginjal. Harapannya ginjal yang mengalami penurunan diganti dengan ginjal yang lebih sehat,” tutupnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.