ANGGAPAN cuci darah atau hemodialisis hanya terjadi pada orang lanjut usia masih banyak disampaikan masyarakat. Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar.
Kini, banyak juga anak muda yang harus menjalani cuci darah. Penyebabnya pun beragam, utamanya soal pola hidup yang kurang baik.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Rosandi Himawan, Sp.PD, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan bahwa cuci darah dapat dialami oleh siapa saja, termasuk kelompok usia muda. Meski kasus gagal ginjal memang lebih banyak ditemukan pada orang tua, saat ini semakin banyak anak muda yang mengalami gangguan fungsi ginjal hingga harus menjalani terapi cuci darah.
“Cuci darah hanya terjadi pada orang tua itu mitos. Memang proporsi gagal ginjal pada orang tua lebih banyak, tetapi sekarang anak muda yang mengalami cuci darah juga banyak,” ujar dr. Rosandi.
Menurut dr. Rosandi, meningkatnya kasus gangguan ginjal pada usia muda tidak lepas dari berbagai faktor risiko, seperti diabetes dan hipertensi. Gaya hidup yang kurang sehat dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit metabolik tersebut.
Jika tidak terkontrol, diabetes dan tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah di ginjal secara perlahan. Hal ini juga bisa menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Selain itu, penyakit peradangan dan autoimun yang lebih sering ditemukan pada usia muda juga dapat menjadi penyebab gangguan ginjal.
“Belum lagi penyakit-penyakit peradangan atau autoimun pada anak muda yang juga semakin meningkat,” jelas dr. Rosandi.

dr. Rosandi jelaskan kapan seseorang harus menjalani cuci darah. Cuci darah umumnya dilakukan ketika seseorang telah mengalami gagal ginjal kronis stadium akhir atau stadium 5.
Pada kondisi tersebut, fungsi ginjal sudah mengalami penurunan drastis, yakni berada di bawah 15 persen. Ketika kemampuan ginjal menyaring racun dan cairan tubuh sudah sangat rendah, diperlukan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis.
“Kalau misalnya tinggal 10 persen, tinggal 5 persen, itu terapi pengganti ginjal salah satunya cuci darah,” kata dr. Rosandi.
Cuci darah berfungsi membantu menggantikan sebagian tugas ginjal, seperti membuang zat sisa metabolisme dan kelebihan cairan dari dalam tubuh. Menurut dr. Rosandi, pasien yang sudah menjalani cuci darah akibat gagal ginjal stadium akhir umumnya perlu melakukan terapi tersebut dalam jangka panjang.
Namun, terdapat pilihan terapi definitif, yaitu transplantasi ginjal. Melalui prosedur ini, ginjal yang sudah mengalami kerusakan digantikan dengan ginjal yang lebih sehat sehingga pasien diharapkan tidak perlu terus bergantung pada cuci darah.
“Terapi definitif artinya transplant ginjal. Harapannya ginjal yang mengalami penurunan diganti dengan ginjal yang lebih sehat,” tutupnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.