JAKARTA – Upaya penanganan malaria di Indonesia dinilai perlu dilakukan melalui pendekatan yang lebih komprehensif. Selain pengobatan dan layanan kesehatan, pengendalian penyakit ini juga membutuhkan pengawasan vektor, modifikasi lingkungan, serta kolaborasi lintas sektor untuk menekan angka penularan, terutama di wilayah endemik seperti Papua.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Industri Pest Management Indonesia (APJIPMI), Boyke Arie Pahlevi, mengatakan penanganan malaria saat ini memerlukan paradigma baru yang tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga menyasar sumber penularan penyakit.
Menurut Boyke, pelibatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), ekonomi kreatif, serta teknologi digital dapat memperkuat pelaksanaan pengendalian vektor di lapangan.
“Penanganan malaria membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari surveilans vektor penyakit, modifikasi lingkungan, hingga kolaborasi berbagai pihak untuk mencegah penularan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengendalian vektor dapat dilakukan melalui pendekatan berbasis sains dan pengelolaan lingkungan. Sementara itu, UMKM dapat berkontribusi melalui budidaya tanaman yang memiliki sifat pengendali hama maupun pengembangan ikan pemakan jentik nyamuk. Dari sektor ekonomi kreatif, inovasi berupa produk aromaterapi antinyamuk juga dinilai berpotensi mendukung upaya pencegahan.