Data WHO pada 2014 menyebut angka kejadian baby blues di Asia berkisar antara 26 hingga 85 persen. Sementara di Indonesia, prevalensinya disebut mencapai sekitar 50 sampai 70 persen pada ibu pascamelahirkan.
Postpartum blues umumnya terjadi pada minggu pertama setelah persalinan dan dialami sekitar separuh perempuan setelah melahirkan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat berkembang menjadi depresi postpartum yang lebih serius apabila tidak ditangani dengan baik.
Tenaga kesehatan, khususnya perawat yang menangani layanan perinatal, dinilai perlu memperhatikan tidak hanya kondisi bayi, tetapi juga kesehatan mental ibu dan dukungan keluarga di sekitarnya. Pendekatan menyeluruh dianggap penting untuk membantu proses pemulihan ibu setelah persalinan.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan dukungan sosial dari suami menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah postpartum blues. Keterlibatan pasangan dalam memberikan dukungan emosional serta pemahaman mengenai kesehatan ibu dan anak dinilai dapat membantu menurunkan risiko gangguan psikologis pascamelahirkan.
Selain itu, deteksi dini melalui konsultasi dan pemeriksaan rutin juga diperlukan agar kondisi baby blues tidak berkembang menjadi gangguan mental yang lebih berat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.